June 5, 2007 by arismunawar
Kumulai tulisan ini dengan sebuah hadis Rasulullah, dimana beliau telah bersabda kepada putrinya, Fathimah Zahro: “Sesungguhnya Allah SWT akan murka karena murka-mu (Fathimah .red), dan akan ridho karena ridho-mu”. (Lihat: Kanzul-Ummal hadis ke- 37725 karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi yang dinukil dari Kitab Muntakhab Mizan al-Hikmah hal: 16). Jelas hadis tadi tidaklah keluar dari Nabi Muhamad saww karena nepotisme sebagai putrinya, akan tetapi berdasarkan kehendak Tuhannya. Bukankah dalam surah Najm ayat 3-4 Allah swt telah berfirman: “Dan tidaklah ia (Muhammad .red) berkata melainkan wahyu yang telah diturankan kepadanya”.
Langit berkabung menyertai duka cita akan kepergian perempuan mulia penghulu para wanita, bagian jiwa Nabi saww, pemilik syafa’at, penghulu para wanita ahli surga, neraca keridhoan dan kemurkaan Allah, putri makhluk paling sempurna dan penutup para nabi; dialah Bunda Fathimah Zahro as. Lidah kelu untuk mengucapkan kata-kata pujian untuknya. Bunda Fathimah Zahro as ialah salah satu jalan manusia untuk mendapat keridhoan Tuhannya.
Berdasarkan salah satu riwayat, hari ini merupakan hari wafat beliau, karena terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hari wafat beliau. Sebagian berpendapat, beliau wafat 75 hari setelah wafat Nabi Muhamad saww. Sebagian lagi mengatakan beliau wafat 95 hari setelah wafat ayahanda beliau. Salah satu penyebab perbedaan pendapat ini adalah karena wafat beliau dirahasiakan oleh keluarga beliau. Begitu pula pelaksanaan memandikan, mengkafani dan memakamkan jasad suci beliau. Oleh karenanya, hingga saat ini tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti dimana makam beliau, kecuali Imam Mahdi aj yang masih keturunan beliau.
Di sini, kita akan mencoba kembali melihat detik-detik menjelang wafat beliau. Sewaktu beliau sudah merasakan ajalnya akan tiba, lalu beliau mandi merapihkan keadaan rumah dan membersihkan anak-anaknya. Setelah itu, kemudian beliau kembali membaringkan tubuhnya yang sangat lemah, akibat sakit parah yang dideritanya. Dengan penuh rasa hormat lalu beliau berkata kepada suami tercintanya, Imam Ali as: “Wahai anak pamanku, hari ini aku akan berpisah dengan dunia. Aku yakin tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, dan aku akan pergi menyusul ayahku. Oleh karena itu aku akan berwasiat kepadamu”.
Imam Ali as berkata: “Wahai putri Rasulullah, semoga Alloh memberi keselamatan kepadamu. Katakan apa yang engkau inginkan!?”. Kemudian Imam Ali as duduk di sampingnya dan menyuruh beberapa orang yang sempat berkumpul di tempat itu untuk keluar dari kamar tempat pembaringan istrinya sehingga beliau dapat leluasa mengutarakan semua rahasianya. Kemudian Sayyidah Fathimah Zahro as berkata: “Wahai anak pamanku, bukankah tidak engkau dapatkan diriku berbohong dan berkhianat kepadamu? Dan bukankah aku tidak pernah menentangmu?” .
Imam Ali as berkata: “Aku berlindung kepada Allah, engkau adalah orang yang lebih mengenal Allah. Engkau adalah orang yang terbaik, orang yang paling bertakwa dan orang yang paling mulia…yang paling aku takutkan dari Tuhanku ialah….. Sungguh telah membuatku sedih dan berduka atas perpisahan dan kepergianmu. Namun harus bagaimana lagi, ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sumpah demi Allah, kepergianmu telah menambah kesedihanku atas musibah kepergian Rasulullah. Dan ketahuilah, sungguh agung musibah yang kuhadapi dengan kepergianmu dan ketiadaanmu. Dan sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”.
Kemudian kedua insan mulia lagi sempurna tersebut menangis karena perpisahan yang akan mereka hadapi. Setelah itu, Imam Ali as meletakkan tubuh suci Sayyidah Fathimah Zahro as di dadanya seraya berkata: “Wahai wanita mulia, ibu terbaik bagi anak-anakku, katakan jika engkau ingin berwasiat. Dan ketahuilah, Ali lelaki setia yang akan melaksanakan segala perintahmu. Dan aku akan mendahulukan keinginanmu dari pada keinginanku, sesulit apapun keinginanmu itu”.
Sayyidah Fathimah Zahro berkata: “Tuhan Maha Pengasih akan memberikan pahala teragung kepadamu. Wahai Ali sayang, wasiat pertamaku setelah kepergianku adalah, engkau harus menikah dengan anak saudariku (bernama Ummul Banin .red), karena ia merupakan ibu yang sangat penyayang terhadap anak-anakku yang masih kecil-kecil itu. Selain itu, dalam mengatur urusan rumahmu engkau memerlukan keberadaan seorang istri”.
Beliau melanjutkan: “Wahai anak pamanku, mandikanlah jenazahku pada malam hari (dalam riwayat lain dikatakan beliau berwasiat agar dimandikan dalam keadaan mengenakan pakaian karena badannya telah suci dan bersih .red). Dan kafani jenazahku pada malam hari. Serta kuburkan jasadku pada waktu malam hari. Janganlah engkau izinkan orang-orang yang telah menzalimiku menghadiri pengiringan jenazahku dan menshalatinya, karena mereka adalah musuh-musuh Allah swt dan Rasul-Nya”.
Seusai berwasiat, lantas beliau memerintahkan untuk memindahkan pembaringannya di tengah ruangan. Lantas beliau berbaring menghadap kiblat dan merenung. Dalam sebagian hadis dikatakan bahwa beliau telah mengirim para putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ke rumah perempuan Bani Hasyim, agar mereka tidak menyaksikan detik-detik kepergiannya yang akan menyedihkan mereka. Bahkan dalam sebagian riwayat dijelaskan pula bahwa kala itu karena ada keperluan yang mendesak, atau karena yang lainnya Imam Ali as dan kedua putranya (Hasan dan Husein as .red) pergi keluar rumah.
Oleh karena itu, kedua putra beliau diakhir ajal beliau tidak berada di sisi ibundanya, sehingga harus menyaksikan kepergian ibu yang sangat mereka cintai. Hanya Asma’ (sebagian mengatakan Fiddhah al-Hindi, murid dan pembantunya .red) yang berada di sampingnya. Detik-detik menjelang ajal beliau telah tiba. Lantas beliau mengucapkan: “Salam atasmu wahai malaikat Jibril. Salam atasmu wahai Rasulullah. Ya Allah, hamba bersama Rasul-Mu. Ya Allah, tempatkan selalu hamba pada keridhoan-Mu, di sisi-Mu, di rumah-Mu, yaitu rumah keselamatan dan kedamaian”.
Lantas beliau bertanya: “Apakah kalian tidak melihat yang sedang aku lihat?”. “Aku melihat rombongan para malaikat langit. Itu malaikat Jibril dan itu adalah ayahku yang berkata: “Wahai putriku, cepatlah kemari. Apa yang ada dihadapnmu lebih baik bagimu…”. Setelah itu beliau menutup kedua belah matanya seraya bibirnya berkomat-kamit: “Hamba kembali menuju-Mu wahai Tuhan-ku, bukan menuju api neraka”. Dan akhirnya beliaupun pergi meninggalkan alam fana ini.
Menyaksikan hal itu Asma’ merangkul tubuh bunda Fathimah Zahro as sambil menangis dan memanggil nama mulia beliau: “Wahai junjunganku, wahai Fathimah, ketika engkau bertemu dengan ayahmu sampaikan salamku kepadanya”. Di saat terdengar suara teriakan, maka datanglah Imam Hasan dan Imam Husein as. Ketika mereka melihat ibunya terbaring, lantas mereka berkata: “Wahai Asma’, ibuku tidak pernah tidur pada jam-jam segini, kenapa beliau diam saja?”. Asma’ dengan raut wajah sedih berkata: “Ibu kalian tidaklah tidur, melainkan ia telah meninggalkan dunia yang fana ini”.
Mendengar hal itu lantas Imam Hasan as (saat itu kurang lebih berusia 7 tahun .red) menjatuhkan tubuhnya di tubuh ibundanya seraya menciumi berkali-kali kedua kakinya. Lalu beliau berkata: “Wahai ibunda, berbicaralah denganku sebelum terpisahnya jiwaku dari ragaku”. Lantas Imam Husein as (saat itu kurang lebih berusia 6 tahun .red) pun melakukan hal yang sama seraya berkata: “Wahai ibunda, aku adalah Husein puteramu. Berbicaralah denganku sebelum jantungku berhenti berdetak, maka kala itu aku meninggal”. Dan seterusnya, saya tidak sanggup untuk meneruskannya. Pada kesempatan lain kita teruskan lagi, sekarang yang hanya dapat kita lakukan hanyalah sekedar untuk mengambil berkah dan mengenang kepergian putri Rasulullah saww. Sebagai perwujudan rasa duka cita atas kepergiannya manusia termulia penghulu para wanita.
Wasiat terakhir beliau yang mungkin membuat kita bertanya-tanya; kenapa beliau berwasiat seperti itu? Dan memang setelah itu Imam Ali as membuat kurang lebih 40 gundukan yang mirip seperti kuburan, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kuburannya kecuali orang tertentu yang turut mengusung jenazahnya. Dan hingga sekarang ini tidak seorangpun mengetahui dengan jelas di mana makam suci wanita paling mulia tersebut kecuali para Imam maksum as dari keluarga Rasul. Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu? Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww.
Wahai bunda Fathimah…!
Engkau penjelmaan cahaya Tuhan…
Engkau Penjelmaan kesempurnaan- Nya…
Dan engkau neraca keridhoan dan kemurkan-Nya. ..
Syafa’ati kami di hari penghisaban semua amal….
Fenomena wafatnya Fatimah Zahra as wanita termulia sepanjang zaman, istri penghulu para imam as, ibunda para imam as, menimbulkan banyak perenungan dan penafsiran yang bermacam-macam. Beliau wafat tidak lama setelah wafat Ayahnya saaw dalam umur yang masih muda 18 tahun. Orang-orang kebanyakan mengatakan bahwa kematiannya akibat kesedihan ditinggal ayahnya (alasan yang sangat aneh) dengan maksud menutupi kebenaran yang sebenarnya.
Tetapi yang jelas kematiannya yang tragis “memang membuka luka lama” bukannya untuk menutupi kehormatan dan pembangkangan para sahabat yang telah melukai beliau hingga wafat beserta anak beliau ‘Muksin’ yang masih dalam kandungan 5 bulan.
Yang peringatannya kematiannya untuk membuka tabir kebenaran adanya pembangkangan, penghianatan, kedurhakaan, perampasan kedudukan Ali as oleh para sahabat. Fatimah as juga menegaskan mereka adalah musuh-musuh Allah – mereka tidak pantas untuk mengantar jenazah atau untuk mengetahui letak jenazah beliah as. Yang berarti pada dasarnya mereka bukanlah moslem yang sejati, mungkin agak kasar dengan mengatakan itulah salah satu bentuk kemunafikan dan mengingkari Allah dan rasulnya atas kepemimpinan yang telah ditetapkan. Jadi pesan yang ingin disampaikan oleh beliau as, bahwa ada manusia-manusia yg mengkhianati Allah dan rasulnya, mereka tidak pantas diikuti, dijadikan pemimpin dan di-ghuluw-i, mereka adalah musuh-musuh Allah dan rasulnya (lihat di sahih muslim – bab sahabat-sahabat yang digiring ke neraka)
, inilah pengorbanan akan syahidnya Fatimah as dan membuka tabir kebenaran. Inilah satu bentuk perlawanan kezaliman dan penuntutan hak kepemimpinan, membela dengan penuh pengorbanan akan hak Ali as suaminya yg tidak dilakukan oleh siapapun juga. Beliau tidak berkenan tetap hidup diatas kezaliman para munafik. Beliau wafat demi kebenaran.
Akankah orang-orang yang ghuluw akan kepemimpinan orang-orang yang khianat dan tidak berhak memimpin umat, mengambil pelajaran dan hikmah dengan peristiwa ini. Pada saat ini orang-orang syiah berusaha untuk tidak menyakiti orang-orang yang ghuluw dengan mengungkit-ungkit luka lama dan lebih mengedepankan ukhuwah dan persatuan islam dengan semboyan “biarlah syiah tetap syiah dan biarlah sunni tetap sunni. Tetapi fenomena syahidnya zahra as mempunyai makna yang agak berbeda, bahwa persatuan islam yang hakiki adalah persatuan orang-orang yang mempunyai kecintaan yang sama kepada para nabi dan pemimpinnya dan mereka tidaklah berkasih sayang kepada orang-orang yang menjadi musuh Allah dan rasulnya(QS) . Karena pada hakikatnya keimanan yang hakiki menyatukan mereka tidak hanya di didunia saja tetapi juga dikumpulkan diakherat. Dengan kata lain beliau as mengisyaratkan islam tidaklah butuh kecintaan/persatuan orang-orang yang munafik. Maaf mungkin pandangan ini agak kurang moderat dan agak bersifat provokasi. Ada orang-orang yang berterimakasih karena kelembutan hati mereka akan kebenaran dan ada pula orang-orang keras hatinya menerima kebenaran dan berusaha menutupinya. Tetaplah berdakwa walaupun pahit seperti pahitnya Fatimah azzahra as. Bangsa Iran besar dan dihormati dan disegani oleh musuhnya karena kecintaan kepada sosok Fatimah dan Ali as bukan karena dukungan orang-orang munafik. Hai orang-orang menganggap diri kalian moslem, cintailah dan dukunglah fatimah, cintailah apa yang dicintai beliau dan musuilah apa-apa yang dimusuinya. Allah ridho dengan ridho fatimah dan Allah murka dengan murkanya fatimah (hadits)
Salam bagimu yaa Fatimah kecintaan Allah SWT, Rasulnya saaw dan para Syiahnya.
wass,