RESENSI BUKU
Oleh: Muhammad Anis Maulachela
Judul : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?
Penulis : Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati
Cetakan : Pertama, Maret 2007
Halaman : 303 + ix
Bulan lalu (3-4 April 2007), Indonesia menjadi tuan rumah sebuah
event internasional bertajuk Konferensi Ulama Sunni-Syiah. Konferensi
yang berlangsung di Istana Bogor ini diprakarsai oleh NU, serta
didukung oleh Muhammadiyah dan pemerintah. Sebagaimana tercermin
dalam pernyataan Hasyim Muzadi dan Dien Syamsuddin tentang pentingnya
menggagalkan upaya musuh dalam memecah-belah Muslimin, konferensi ini
diharapkan mampu menghasilkan piagam persatuan umat Islam.
Namun, masih saja ada segelintir orang, yang melakukan aksi-aksi
yang bertentangan dengan semangat persatuan itu. Pernyataan
provokatif Syaikh Yusuf Qardhawi (salah seorang ulama besar) bahwa
kaum Syiah Irak telah membantai kaum Sunni di sana—saat berkunjung ke
Indonesia (Januari 2007)—adalah salah satu di antaranya. Meskipun,
pernyataan beliau itu pada kenyataannya tidak memperoleh porsi
pemberitaan yang besar. Hal ini dikarenakan dunia pers tentu lebih
mampu memilah berita dan opini, bahwa yang terjadi di Irak bukanlah
konflik Syiah dan Sunni, apalagi pembantaian kaum Syiah terhadap kaum
Sunni.
Sayang sekali, tanpa disadari beliau telah terjebak dalam
propaganda yang dihembuskan dan dimotori Amerika, yang didukung oleh
kelompok takfiriyah (yaitu segelintir ekstremis Muslim yang
menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka), dan
sisa-sisa pengikut Saddam atau partai Ba’ats. Rekaman video juga
membuktikan bahwa tentara AS telah melakukan aksi-aksi teror dengan
mengenakan pakaian milisi Irak. Dan sebagaimana yang diberitakan,
sekitar 70 persen dari korban tewas akibat teror yang dilakukan
selama ini adalah justru orang-orang Syi’ah—di Samarra, Kazhimain,
Najaf, Karbala, dan kantung-kantung Syi’ah lainnya—melalui aksi-aksi
bom mobil dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Jadi,
sebenarnya tak ada konflik sektarian di Irak, melainkan kaum Syiah
dan Sunni telah sama-sama menjadi korban konspirasi musuh.
Tak hanya itu, pernyataan provokatif kembali beliau lontarkan pada
Muktamar Doha (Qatar), di bulan yang sama, bahwa Al-Quran Iran telah
mengalami distorsi (tahrif), alias berbeda dengan Al-Quran yang
berada di tangan Muslimin. Pernyataan ini jelas mengorek kembali
tuduhan-tuduhan klasik, yang telah dijawab oleh banyak ulama Syiah.
Bahkan belakangan muncul “para pemain lama”, yang berupaya
memprovokasi Muslimin di Indonesia agar melenyapkan Syiah dari negeri
ini. Peristiwa teror terhadap jama’ah Syiah di Bondowoso, Sampang,
dan Bangil boleh jadi hanya sebagian kecil dari akibat provokasi ini.
Padahal, aksi mereka itu tak membawa manfaat apa pun kecuali
menjadikan mereka sebagai bagian dari konspirasi Zionisme
Internasional, khususnya dalam upaya menghancurkan Muslimin.
Melihat kenyataan yang amat memprihatinkan itu, Dr. Quraish Shihab—
melalui buku ini—mencoba untuk mengajak ke arah persatuan umat, apa
pun mazhab mereka. Sunni dan Syiah, meskipun memuat banyak perbedaan
dalam terminologi Ushuludin dan Furu’udin, tidak berarti mustahil
untuk bergandengan. “…tiada lain tujuan penulis kecuali terjalinnya
hubungan harmonis antar semua kelompok umat Islam, bahkan seluruh
umat manusia,” ujar beliau (hal ix).
Dalam buku ini—yang sebenarnya merupakan kumpulan dari makalah
beliau dalam acara diskusi di Masjid al-Aqsha, Ujung Pandang, pada
1980—terkesan seolah beliau “membela” pandangan-pandangan Syiah.
Akibatnya, beliau pun dituding oleh sebagian orang sebagai seorang
Syiah. Bahkan hanya mencantumkan argumen Allamah Thabathabai saja
dalam kitab beliau Tafsir al-Mishbah, tudingan serupa juga terlontar.
Namun, tudingan-tudingan tersebut beliau tampik. Sebagai gantinya,
beliau mengatakan, “Amanah ilmiah menuntut agar menyampaikan apa yang
diyakini, khawatir jangan sampai sikap diam dinilai Allah sebagai
menyembunyikan kebenaran.” (hal viii)
Sebenarnya apa yang dilakukan beliau itu wajar saja, karena posisi
Syiah adalah minoritas di antara komunitas Muslimin di dunia.
Sehingga, sudah selayaknya kelompok mayoritas mengenal ajaran dan
pandangan Syiah yang sesungguhnya. Dengan demikian, tudingan-tudingan
klasik—sebagaimana yang dikorek kembali oleh Syaikh Yusuf Qardhawi di
atas—diharapkan tidak muncul lagi di tengah masyarakat seiring
membaiknya pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap ajaran Syiah.
Dengan gaya bahasa santun, buku ini mengajak pembaca untuk
meneropong isu-isu penting mazhab Syiah—seperti Imamah, Sahabat,
Taqiyah, Tahrif, Raj’ah, Bada’, dan lain-lain—yang kerap didistorsi
dan disalahpahami, sehingga banyak memancing cemooh bahkan hujatan
oleh kalangan pengikut mazhab non-Syiah.
Memang telah banyak buku-buku dari kalangan ulama Syiah, yang
membahas secara mendalam isu-isu tersebut. Namun, yang menarik dari
buku ini adalah penulis mengambil referensi dari para ulama
Ahlusunnah kontemporer, seperti Muhammad Rasyid Ridha, Abdulhalim
Mahmud, Muhammad `Imarah, Mahmud Syaltut, dan lain-lain. Bahkan
disertakan pula teks asli bahasa Arabnya pada kalimat-kalimat
kutipan.
Meskipun beberapa bahasan dalam buku ini masih perlu didiskusikan
lagi, namun secara umum buku ini bagus, ilmiah, dan perlu dibaca.
Terutama, yang perlu disoroti adalah misi buku ini, yaitu persatuan
umat Islam dan terjalinnya hubungan harmonis di antara berbagai
pengikut mazhab dalam Islam. Wallahul Musta’an.
Wassalaam,
Muh. Anis





