Feeds:
Posts
Comments

Oleh: Irfan Permana

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007
Harga: Rp 65.000,-

Buku tersebut dapat diperoleh juga di Toko Buku “Diskon” Yasmin, Jl Purnawarman Blok A no. 37 Perum Bukit Cirendeu Pondok Cabe. Melayani pembelian online 021-7434792
Sebagaimana persamaan, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan manusia. Sekecil apapun sebuah komunitas tempat kita bernaung, niscaya akan selalu ditemukan adanya perbedaan. Namun, sebagai manusia berakal, kita dituntut arif dalam menyikapinya. Sikap positif menghadapi perbedaan ini justru akan membawa hasil yang positif pula. Dan sikap positif yang demikian hanya dimiliki oleh seseorang yang luas wawasannya. Semakin luas wawasan seseorang, akan semakin tinggi pula toleransinya, dengan kata lain ia akan semakin arif dalam menyikapi segala perbedaan. Sebaliknya, sempitnya pengetahuan menjadikan seseorang terjebak dalam fanatisme buta, sehingga kerap menggiring perbedaan menuju perselisihan. Inilah sesungguhnya yang terjadi pada orang-orang yang cepat sekali termakan hasutan –karena piciknya pandangan– ketika dihadapkan pada perbedaan madzhab dalam kehidupan keberagamaannya, termasuk di negeri kita sendiri.

Dalam konteks ikhtilaf Sunnah-Syi’ah –yang belakangan marak kita dengar terkait isu pertikaian antara keduanya akibat hembusan fitnah para musuh Islam–, tak diragukan, Prof. DR. M. Quraish Shihab adalah seorang penulis yang paham betul bagaimana mempertemukan titik-titik perbedaan antara keduanya. Dengan membawa semangat persatuan serta at-taqrib baina al-madzahib (pendekatan antar madzhab), penulis sepertinya mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua umat Islam mendambakan mengikuti Nabi Muhammad Saw. Namun, sulitnya memperoleh petunjuk yang pasti –menyangkut masalah yang diperselisihkan itu– acapkali menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap sebuah sumber hukum. Sebagaimana yang selalu ditanamkan guru-gurunya di Universitas al-Azhar Mesir (tempat penulis mengenyam pendidikan), penulis menyadari bahwa di antara madzhab yang berbeda pendapat itu, tidak ada satupun yang berhak menjadi juru bicara resmi yang memonopoli kebenaran atas nama Islam seraya memvonis yang lain bathil dan sesat, padahal masih berada dalam koridor Islam.
Diantara Sunnah-Syiah –dalam hal ini Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sebagai kelompok mayoritas–, sesungguhnya tidak banyak ditemukan perbedaan yang prinsipil kecuali menyangkut masalah imamah. Sementara kelompok Ahlussunnah menganggap bahwa masalah kepemimpinan diserahkan kepada umat melalui apa yang dinamakan syura (demokrasi), kelompok Syi’ah meyakini bahwa kepemimpinan adalah jabatan ilahiah. Allah telah memilih para imam sebagaimana Dia memilih Nabi. Allah memerintahkan kepada Nabi Saw untuk menunjuk dengan tegas Ali bin Abi Thalib sebagai washi (yang diwasiati), dilanjutkan oleh keturunannya secara turun temurun hingga yang terakhir (imam ke-12), yaitu al-Mahdi, yang diyakini juga kemunculannya kelak oleh kaum Sunni.

Para imam penerus risalah ini merupakan manusia-manusia pilihan yang kekuasaannya bersumber dari Allah Swt, melalui apa yang disampaikan Nabi Saw. Selain memiliki kekuasaan politik, mereka juga berperan sebagai pembimbing spiritual. Hal ini yang menyebabkan tidak dikenalnya pemisahan antara politik dan keagamaan di dunia Syi’ah. Politik adalah agama, agama adalah politik. Maka ketika sebagian orang menyebut bahwa Syi’ah lahir akibat persoalan politik, kaum Syi’ah menampiknya.

Bagi kaum Syi’ah, para imam memiliki kedudukan yang mulia, mereka adalah para pribadi yang memiliki kesucian jiwa. Mereka bersifat maksum (terpelihara dari dosa), seperti terpeliharanya Nabi dari dosa. Bedanya, para imam ini bukanlah Nabi yang mendapatkan wahyu, melainkan penerus risalah yang diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Karena risalah harus disampaikan secara utuh dan sempurna, maka para penyampainya tidak boleh mempunyai kelemahan (seperti keliru atau lupa). Karena itulah mereka dijaga dari dosa.

Jika konsep ‘ishmah (keterpeliharaan dari dosa) untuk Nabi diterima oleh sebagian besar kaum Sunni, maka konsep ‘ishmah bagi para imam ini ditolak, karena dipandang terlalu berlebihan memberikan atribut demikian. Namun bagaimanapun, menurut Syi’ah, kehadiran para imam ini adalah lutfh (karunia) Allah kepada manusia yang tidak berkesempatan menerima risalah langsung dari Nabi Saw.

Sebagaimana Ahlussunnah yang meyakini konsep kepemimpinannya, kaum Syi’ah pun meyakini bahwa pandangannya tentang konsep kepemimpinan didasarkan pada argumen –baik nash maupun akal– yang kuat. Sehingga sulit sekali untuk menggandengkan kedua pandangan yang berseberangan ini. Atau jika ingin dibenturkan, satu sama lain akan sulit saling menggoyahkan. Terlebih, imamah ini termasuk masalah yang prinsipil bagi kaum Syi’ah. Alih-alih dicapai kesepakatan, malah perselisihan yang muncul. Untuk itu, masing-masing pihak dituntut untuk saling memahami dan menghargai pendapat yang lainnya. Meminjam istilah Cak Nun, jangan paksa kambing meringkik dan jangan paksa kuda mengembik, biarlah kambing menjadi kambing dan kuda menjadi kuda. Biarlah Syi’ah tetap Syi’ah dan Sunni tetap Sunni.

Masalah lainnya yang disinggung dalam buku ini adalah, betapa banyak orang (non-Syi’ah) yang mensimplifikasi konsep-konsep ajaran Syi’ah, dengan mengangkat isu-isu yang sejak ratusan tahun lalu muncul. Misalnya, tentang Syi’ah yang mempunyai Qur’an yang berbeda, Syi’ah adalah agama yang dibentuk oleh orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, Syi’ah menuhankan Ali, serta atribut sesat lainnya. Sebagaimana di tubuh Ahlussunnah, di Syi’ah pun dalam sejarah perkembangannya muncul kelompok-kelompok ghulat (ekstrim) yang keluar jalur, dimana para imam Syi’ah pun berlepas tangan bahkan mengutuk mereka. Kelompok Ahlussunnah dan Syi’ah masing-masing terbagi menjadi beberapa kelompok berikut cabang-cabangnya. Ketika ada beberapa kelompok di Ahlussunnah yang keluar jalur, tidak bisa dikatakan bahwa Ahlussunnah (seluruhnya) sesat. Begitu juga dengan Syi’ah.

Dalam buku ini, selebihnya dibahas perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (rincian ajaran), sebagaimana ditemukan juga di antara keempat madzhab besar Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Selain itu, diulas juga secara rinci beberapa poin yang selama ini menjadi sumber tuduhan terhadap Syi’ah, diantaranya: pelaknatan kaum Syi’ah terhadap sahabat Nabi Saw, raj’ah, bada’, taqiyah sampai persoalan seputar ibadah ritual.

Di dalam buku yang ditulis oleh seorang cendekiawan yang paham tentang Syi’ah ini, dipaparkan secara umum bahwa persamaan antara Sunnah-Syi’ah lebih banyak ketimbang perbedaannya. Dan tentu saja keduanya masih bisa digandengkan dalam koridor persatuan. Dan inilah nampaknya tujuan penulisan buku ini. Agar kita umat muslim tidak dengan mudah terprovokasi oleh upaya-upaya keji para musuh Islam yang tidak suka melihat Islam bersatu. Stigma yang selama ini melekat pada Syi’ah tak lain karena kurangnya informasi yang diperoleh. Atau kalaupun ada, hanya bersifat sepihak saja.

Dalam memaparkan sebuah persoalan, penulis selalu mengutip pendapat ulama dari kedua sumber, yang dinukil dari kitab-kitab terpercaya dari keduanya. Sesekali penulis mengutarakan pandangan pribadinya, dimana ketika ada yang tidak disepakati, penulis mengemukakannya dengan bahasa yang santun (seperti yang kita baca di buku-buku Quraish Shihab sebelumnya).

Walhasil, mungkinkah Sunnah-Syiah bergandengan tangan? Tentu saja mungkin, bahkan harus. Terlebih Al-Qur’an sendiri mewajibkan setiap orang yang beragama dan berakal untuk menghindari perselisihan, seperti firman-Nya dalam QS. 3:103. Tentunya kita berharap, apapun madzhab yang kita anut, agar terhimpun di bawah panji tauhid yang dikibarkan junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.

Ada hal menarik di bagian penutup buku ini yang ingin saya kutip. Quraish Shihab menulis:

“Ada prinsip, bagi penulis, dalam konteks persatuan umat melalui pendekatan antar mazhab, yaitu mencintai dan mengikuti Rasul Saw dan keluarga beliau, Ahlulbait, yang dilukiskan oleh Nabi Saw sebagai tidak akan berpisah dengan al-Qur’an hingga akhir zaman, sehingga tidak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh dengan keduanya. Dalam konteks cinta dan mengikuti itulah penulis menjadikan Imam Ali ra, setelah Rasul Saw, sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani.”

Wallahu a’lam

Dalam konteks ikhtilaf Sunnah-Syi’ah –yang belakangan marak kita dengar terkait isu pertikaian antara keduanya akibat hembusan fitnah para musuh Islam–, tak diragukan, Prof. DR. M. Quraish Shihab adalah seorang penulis yang paham betul bagaimana mempertemukan titik-titik perbedaan antara keduanya. Dengan membawa semangat persatuan serta at-taqrib baina al-madzahib (pendekatan antar madzhab), penulis sepertinya mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua umat Islam mendambakan mengikuti Nabi Muhammad Saw. Namun, sulitnya memperoleh petunjuk yang pasti –menyangkut masalah yang diperselisihkan itu– acapkali menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap sebuah sumber hukum. Sebagaimana yang selalu ditanamkan guru-gurunya di Universitas al-Azhar Mesir (tempat penulis mengenyam pendidikan), penulis menyadari bahwa di antara madzhab yang berbeda pendapat itu, tidak ada satupun yang berhak menjadi juru bicara resmi yang memonopoli kebenaran atas nama Islam seraya memvonis yang lain bathil dan sesat, padahal masih berada dalam koridor Islam.

Diantara Sunnah-Syiah –dalam hal ini Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sebagai kelompok mayoritas–, sesungguhnya tidak banyak ditemukan perbedaan yang prinsipil kecuali menyangkut masalah imamah. Sementara kelompok Ahlussunnah menganggap bahwa masalah kepemimpinan diserahkan kepada umat melalui apa yang dinamakan syura (demokrasi), kelompok Syi’ah meyakini bahwa kepemimpinan adalah jabatan ilahiah. Allah telah memilih para imam sebagaimana Dia memilih Nabi. Allah memerintahkan kepada Nabi Saw untuk menunjuk dengan tegas Ali bin Abi Thalib sebagai washi (yang diwasiati), dilanjutkan oleh keturunannya secara turun temurun hingga yang terakhir (imam ke-12), yaitu al-Mahdi, yang diyakini juga kemunculannya kelak oleh kaum Sunni.

Para imam penerus risalah ini merupakan manusia-manusia pilihan yang kekuasaannya bersumber dari Allah Swt, melalui apa yang disampaikan Nabi Saw. Selain memiliki kekuasaan politik, mereka juga berperan sebagai pembimbing spiritual. Hal ini yang menyebabkan tidak dikenalnya pemisahan antara politik dan keagamaan di dunia Syi’ah. Politik adalah agama, agama adalah politik. Maka ketika sebagian orang menyebut bahwa Syi’ah lahir akibat persoalan politik, kaum Syi’ah menampiknya.

Bagi kaum Syi’ah, para imam memiliki kedudukan yang mulia, mereka adalah para pribadi yang memiliki kesucian jiwa. Mereka bersifat maksum (terpelihara dari dosa), seperti terpeliharanya Nabi dari dosa. Bedanya, para imam ini bukanlah Nabi yang mendapatkan wahyu, melainkan penerus risalah yang diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Karena risalah harus disampaikan secara utuh dan sempurna, maka para penyampainya tidak boleh mempunyai kelemahan (seperti keliru atau lupa). Karena itulah mereka dijaga dari dosa.

Jika konsep ‘ishmah (keterpeliharaan dari dosa) untuk Nabi diterima oleh sebagian besar kaum Sunni, maka konsep ‘ishmah bagi para imam ini ditolak, karena dipandang terlalu berlebihan memberikan atribut demikian. Namun bagaimanapun, menurut Syi’ah, kehadiran para imam ini adalah lutfh (karunia) Allah kepada manusia yang tidak berkesempatan menerima risalah langsung dari Nabi Saw.

Sebagaimana Ahlussunnah yang meyakini konsep kepemimpinannya, kaum Syi’ah pun meyakini bahwa pandangannya tentang konsep kepemimpinan didasarkan pada argumen –baik nash maupun akal– yang kuat. Sehingga sulit sekali untuk menggandengkan kedua pandangan yang berseberangan ini. Atau jika ingin dibenturkan, satu sama lain akan sulit saling menggoyahkan. Terlebih, imamah ini termasuk masalah yang prinsipil bagi kaum Syi’ah. Alih-alih dicapai kesepakatan, malah perselisihan yang muncul. Untuk itu, masing-masing pihak dituntut untuk saling memahami dan menghargai pendapat yang lainnya. Meminjam istilah Cak Nun, jangan paksa kambing meringkik dan jangan paksa kuda mengembik, biarlah kambing menjadi kambing dan kuda menjadi kuda. Biarlah Syi’ah tetap Syi’ah dan Sunni tetap Sunni.

Masalah lainnya yang disinggung dalam buku ini adalah, betapa banyak orang (non-Syi’ah) yang mensimplifikasi konsep-konsep ajaran Syi’ah, dengan mengangkat isu-isu yang sejak ratusan tahun lalu muncul. Misalnya, tentang Syi’ah yang mempunyai Qur’an yang berbeda, Syi’ah adalah agama yang dibentuk oleh orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, Syi’ah menuhankan Ali, serta atribut sesat lainnya. Sebagaimana di tubuh Ahlussunnah, di Syi’ah pun dalam sejarah perkembangannya muncul kelompok-kelompok ghulat (ekstrim) yang keluar jalur, dimana para imam Syi’ah pun berlepas tangan bahkan mengutuk mereka. Kelompok Ahlussunnah dan Syi’ah masing-masing terbagi menjadi beberapa kelompok berikut cabang-cabangnya. Ketika ada beberapa kelompok di Ahlussunnah yang keluar jalur, tidak bisa dikatakan bahwa Ahlussunnah (seluruhnya) sesat. Begitu juga dengan Syi’ah.

Dalam buku ini, selebihnya dibahas perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (rincian ajaran), sebagaimana ditemukan juga di antara keempat madzhab besar Ahlussunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Selain itu, diulas juga secara rinci beberapa poin yang selama ini menjadi sumber tuduhan terhadap Syi’ah, diantaranya: pelaknatan kaum Syi’ah terhadap sahabat Nabi Saw, raj’ah, bada’, taqiyah sampai persoalan seputar ibadah ritual.

Di dalam buku yang ditulis oleh seorang cendekiawan yang paham tentang Syi’ah ini, dipaparkan secara umum bahwa persamaan antara Sunnah-Syi’ah lebih banyak ketimbang perbedaannya. Dan tentu saja keduanya masih bisa digandengkan dalam koridor persatuan. Dan inilah nampaknya tujuan penulisan buku ini. Agar kita umat muslim tidak dengan mudah terprovokasi oleh upaya-upaya keji para musuh Islam yang tidak suka melihat Islam bersatu. Stigma yang selama ini melekat pada Syi’ah tak lain karena kurangnya informasi yang diperoleh. Atau kalaupun ada, hanya bersifat sepihak saja.

Dalam memaparkan sebuah persoalan, penulis selalu mengutip pendapat ulama dari kedua sumber, yang dinukil dari kitab-kitab terpercaya dari keduanya. Sesekali penulis mengutarakan pandangan pribadinya, dimana ketika ada yang tidak disepakati, penulis mengemukakannya dengan bahasa yang santun (seperti yang kita baca di buku-buku Quraish Shihab sebelumnya).

Walhasil, mungkinkah Sunnah-Syiah bergandengan tangan? Tentu saja mungkin, bahkan harus. Terlebih Al-Qur’an sendiri mewajibkan setiap orang yang beragama dan berakal untuk menghindari perselisihan, seperti firman-Nya dalam QS. 3:103. Tentunya kita berharap, apapun madzhab yang kita anut, agar terhimpun di bawah panji tauhid yang dikibarkan junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.

Ada hal menarik di bagian penutup buku ini yang ingin saya kutip. Quraish Shihab menulis:

“Ada prinsip, bagi penulis, dalam konteks persatuan umat melalui pendekatan antar mazhab, yaitu mencintai dan mengikuti Rasul Saw dan keluarga beliau, Ahlulbait, yang dilukiskan oleh Nabi Saw sebagai tidak akan berpisah dengan al-Qur’an hingga akhir zaman, sehingga tidak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh dengan keduanya. Dalam konteks cinta dan mengikuti itulah penulis menjadikan Imam Ali ra, setelah Rasul Saw, sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani.”

Wallahu a’lam

www.jalal-center. com/

RESENSI BUKU
Oleh: Muhammad Anis Maulachela

Judul : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?
Penulis : Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati
Cetakan : Pertama, Maret 2007
Halaman : 303 + ix

Bulan lalu (3-4 April 2007), Indonesia menjadi tuan rumah sebuah
event internasional bertajuk Konferensi Ulama Sunni-Syiah. Konferensi
yang berlangsung di Istana Bogor ini diprakarsai oleh NU, serta
didukung oleh Muhammadiyah dan pemerintah. Sebagaimana tercermin
dalam pernyataan Hasyim Muzadi dan Dien Syamsuddin tentang pentingnya
menggagalkan upaya musuh dalam memecah-belah Muslimin, konferensi ini
diharapkan mampu menghasilkan piagam persatuan umat Islam.

Namun, masih saja ada segelintir orang, yang melakukan aksi-aksi
yang bertentangan dengan semangat persatuan itu. Pernyataan
provokatif Syaikh Yusuf Qardhawi (salah seorang ulama besar) bahwa
kaum Syiah Irak telah membantai kaum Sunni di sana—saat berkunjung ke
Indonesia (Januari 2007)—adalah salah satu di antaranya. Meskipun,
pernyataan beliau itu pada kenyataannya tidak memperoleh porsi
pemberitaan yang besar. Hal ini dikarenakan dunia pers tentu lebih
mampu memilah berita dan opini, bahwa yang terjadi di Irak bukanlah
konflik Syiah dan Sunni, apalagi pembantaian kaum Syiah terhadap kaum
Sunni.

Sayang sekali, tanpa disadari beliau telah terjebak dalam
propaganda yang dihembuskan dan dimotori Amerika, yang didukung oleh
kelompok takfiriyah (yaitu segelintir ekstremis Muslim yang
menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka), dan
sisa-sisa pengikut Saddam atau partai Ba’ats. Rekaman video juga
membuktikan bahwa tentara AS telah melakukan aksi-aksi teror dengan
mengenakan pakaian milisi Irak. Dan sebagaimana yang diberitakan,
sekitar 70 persen dari korban tewas akibat teror yang dilakukan
selama ini adalah justru orang-orang Syi’ah—di Samarra, Kazhimain,
Najaf, Karbala, dan kantung-kantung Syi’ah lainnya—melalui aksi-aksi
bom mobil dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Jadi,
sebenarnya tak ada konflik sektarian di Irak, melainkan kaum Syiah
dan Sunni telah sama-sama menjadi korban konspirasi musuh.

Tak hanya itu, pernyataan provokatif kembali beliau lontarkan pada
Muktamar Doha (Qatar), di bulan yang sama, bahwa Al-Quran Iran telah
mengalami distorsi (tahrif), alias berbeda dengan Al-Quran yang
berada di tangan Muslimin. Pernyataan ini jelas mengorek kembali
tuduhan-tuduhan klasik, yang telah dijawab oleh banyak ulama Syiah.

Bahkan belakangan muncul “para pemain lama”, yang berupaya
memprovokasi Muslimin di Indonesia agar melenyapkan Syiah dari negeri
ini. Peristiwa teror terhadap jama’ah Syiah di Bondowoso, Sampang,
dan Bangil boleh jadi hanya sebagian kecil dari akibat provokasi ini.
Padahal, aksi mereka itu tak membawa manfaat apa pun kecuali
menjadikan mereka sebagai bagian dari konspirasi Zionisme
Internasional, khususnya dalam upaya menghancurkan Muslimin.

Melihat kenyataan yang amat memprihatinkan itu, Dr. Quraish Shihab—
melalui buku ini—mencoba untuk mengajak ke arah persatuan umat, apa
pun mazhab mereka. Sunni dan Syiah, meskipun memuat banyak perbedaan
dalam terminologi Ushuludin dan Furu’udin, tidak berarti mustahil
untuk bergandengan. “…tiada lain tujuan penulis kecuali terjalinnya
hubungan harmonis antar semua kelompok umat Islam, bahkan seluruh
umat manusia,” ujar beliau (hal ix).

Dalam buku ini—yang sebenarnya merupakan kumpulan dari makalah
beliau dalam acara diskusi di Masjid al-Aqsha, Ujung Pandang, pada
1980—terkesan seolah beliau “membela” pandangan-pandangan Syiah.
Akibatnya, beliau pun dituding oleh sebagian orang sebagai seorang
Syiah. Bahkan hanya mencantumkan argumen Allamah Thabathabai saja
dalam kitab beliau Tafsir al-Mishbah, tudingan serupa juga terlontar.
Namun, tudingan-tudingan tersebut beliau tampik. Sebagai gantinya,
beliau mengatakan, “Amanah ilmiah menuntut agar menyampaikan apa yang
diyakini, khawatir jangan sampai sikap diam dinilai Allah sebagai
menyembunyikan kebenaran.” (hal viii)

Sebenarnya apa yang dilakukan beliau itu wajar saja, karena posisi
Syiah adalah minoritas di antara komunitas Muslimin di dunia.
Sehingga, sudah selayaknya kelompok mayoritas mengenal ajaran dan
pandangan Syiah yang sesungguhnya. Dengan demikian, tudingan-tudingan
klasik—sebagaimana yang dikorek kembali oleh Syaikh Yusuf Qardhawi di
atas—diharapkan tidak muncul lagi di tengah masyarakat seiring
membaiknya pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap ajaran Syiah.

Dengan gaya bahasa santun, buku ini mengajak pembaca untuk
meneropong isu-isu penting mazhab Syiah—seperti Imamah, Sahabat,
Taqiyah, Tahrif, Raj’ah, Bada’, dan lain-lain—yang kerap didistorsi
dan disalahpahami, sehingga banyak memancing cemooh bahkan hujatan
oleh kalangan pengikut mazhab non-Syiah.

Memang telah banyak buku-buku dari kalangan ulama Syiah, yang
membahas secara mendalam isu-isu tersebut. Namun, yang menarik dari
buku ini adalah penulis mengambil referensi dari para ulama
Ahlusunnah kontemporer, seperti Muhammad Rasyid Ridha, Abdulhalim
Mahmud, Muhammad `Imarah, Mahmud Syaltut, dan lain-lain. Bahkan
disertakan pula teks asli bahasa Arabnya pada kalimat-kalimat
kutipan.

Meskipun beberapa bahasan dalam buku ini masih perlu didiskusikan
lagi, namun secara umum buku ini bagus, ilmiah, dan perlu dibaca.
Terutama, yang perlu disoroti adalah misi buku ini, yaitu persatuan
umat Islam dan terjalinnya hubungan harmonis di antara berbagai
pengikut mazhab dalam Islam. Wallahul Musta’an.

Wassalaam,
Muh. Anis

http://www.icc- jakarta.com/

3 Juni 2007, jam 3 sore. Panas Jakarta yang semakin menyengat tak mengurangi antusiasme lebih dari dua ribu orang yang memadati Islamic Cultural Center, Buncit Raya Kavling 35. Massa datang bukan saja dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, melainkan juga dari berbagai daerah, seperti Bandung, Purwakarta, Bogor, Pekalongan, dan dari wilayah lain. Mereka datang untuk menghadiri acara yang rutin dilaksanakan oleh ICC Jakarta setiap tahunnya, yaitu “Peringatan Wafat (Haul) Imam Khomeini yang Ke-18″.

Tampak di tempat acara banner besar bergambar Imam Khomeini dengan tulisan “Mengenang Wafat Imam Khomeini: Tak Pernah Mati dalam Dada Para Pejuang”. Satu slogan yang menunjukkan semangat perjuangan Imam Khomeini yang masih terus dikenang oleh para pencinta kebenaran dan para pejuang Islam.

Pada tahun ini, peringatan Haul Imam Khomeini menghadirkan pembicara langsung dari negeri Iran, Ayatullah Muhsin Qara’ati, seorang ulama ahli tafsir terkemuka yang sengaja hadir untuk memberikan pencerahan mengenai jasa-jasa Imam Khomeini, yang bukan saja bagi negeri Iran tetapi bagi umat Muslim dunia.

Dalam ceramahnya, Ayatullah Muhsin Qara’ati berbicara dalam bahasa Parsi dan diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Beik ke dalam bahasa Indonesia. Beliau di antaranya mengutarakan: “Di antara tugas para Nabi adalah mencegah kezaliman dan menyelamatkan masyarakat, dan hal itu adalah apa yang diajarkan oleh al-Quran, di antaranya apa yang difirmankan oleh Allah mengenai kisah Nabi Musa yang diutus Allah kepada Bani Israil. Dalam salah satu ayat, digambarkan mengenai Fir’aun sebagai raja yang selalu memaksakan kehendaknya pada masyarakat, di antaranya melakukan kedzaliman terhadap orang-orang beriman dengan memotong kaki dan tangan mereka secara silang, potong kaki kanan dan tangan kiri, sebagai akibat bagi siapa saja yang mengikuti Nabi Musa As. Namun pengikut Nabi Musa, seperti diceritakan pula oleh Al-Quran, mengatakan mereka tidak memiliki pilihan lain selain meneruskan pilihan kebenaran yang telah mereka pilih.”

Qara’ati memberikan penjelasan mengenai sikap orang beriman tadi, bahwa pilihan hidup yang benar bukan pilihan hidup untuk makan, sebab jika pilihan hidup untuk makan, maka tidak ada bedanya dengan sapi yang makan lebih banyak daripada manusia. Bukan hanya itu, sapi juga selain makan banyak, juga tidak perlu dimasak, tidak perlu dicuci dan tidak takut keracunan makanan. Begitu juga halnya, jika manusia hidupnya mempunyai pilihan hanya untuk memuaskan nafsu, maka tidak ada bedanya dengan ayam. Ayam dalam memuaskan nafsunya hanya perlu adanya pasangan, tidak perlu kamar, bisa dilakukan di mana saja, dan frekuensinya bisa lebih banyak dari manusia.

Kehidupan sejati, menurut Qara’ati, bukan hanya menuruti nasfu makan atau memuaskan nafsu syahwat, tetapi mengikuti pikiran kita. Artinya, dengan pikiran itu kita mencari kebenaran dan dengan kebenaran itulah kita mati syahid. Seperti yang dikemukakan oleh Imam Husein As, bahwa “Aku akan pergi walaupun kematian akan menghadangku. Boleh saja kepalaku mungkin ditebas, tetapi aku tidak akan menundukkan kepalaku kepada pemimpin yang dzalim”. Hal itu pula yang dilakukan oleh Fir’aun yang mengatakan dia akan membunuh siapa saja yang mengikuti Nabi Musa as, tetapi mereka tetap teguh memegang keimanannya.

Ayatullah Muhsin Qara’ati selanjutnya memberikan penjelasan mengenai “Apa tujuan Imam Khomeini?” Menurut Qara’ati, Imam Khomeini melakukan perjuangannya dalam melawan kedzaliman sesuai dengan apa yang diyakini oleh para orang-orang beriman kepada Nabi Musa. Imam Khomeini tetap berpegang teguh pada keyakinannya dan tidak akan surut pejuangannya, baik menang ataupun kalah. Seperti halnya seorang muadzin, yang tetap mengumandangkan adzan, baik orang mau shalat ataupun tidak mau shalat. Atau seperti mobil pemadam kebakaran yang harus selalu siap, baik ada kebakaran ataupun tidak ada kebakaran.

Qara’ati menambahkan, “Tujuan pergerakan Imam Khomeini adalah revolusi budaya. Beliau ingin mengubah paradigma dan pemikiran yang ada pada saat itu, yaitu adanya asumsi yang salah bahwa tidak mungkin sekuntum bunga akan memberikan sejuknya musim semi. Tetapi al-Quran mengatakan, Nabi Ibrahim berjuang hanya sendirian. Begitu juga Imam Khomeini. Ia berjuang sendirian, yang dengannya seorang Muslim yang awalnya takut terhadap penguasa menjadi berani karena melihat sosok Imam Khomeini.”

Pernyataan Qara’ati tersebut disambut dengan gegap gempita dari para hadirin sambil menyerukan “Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad” sebagai ungkapan emosi takjub dan ikut merasakan apa yang diperjuangkan oleh Imam Khomeini.

Qara’ati melanjutkan ceramahnya tentang bagaimana Imam Khomeini melakukan sebuah revolusi. Pertama, yang beliau lakukan adalah niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Imam Khomeini adalah sosok yang penuh keikhlasan. Beliau tidak pernah memikirkan sesuatu selain Allah Swt. Seorang yang ikhlas adalah yang selalu berpikir ketika Allah ridho maka ia akan menuju ke arah yang diridhoi-Nya, bukan ke arah apa yang disukai oleh manusia atau apa yang dilihat oleh manusia. Sebagaimana halnya benang emas dalam uang kertas yang memberi nilai pada uang kertas itu. Benang itu seperti keikhlasan, yang akan memberikan nilai bagi manusia, dan berkat keikhlasan itu hati orang-orang akan terpikat untuk mengikuti jejaknya.

Dalam sebuah ungkapan disebutkan, “Datanglah kepada seorang Kepala Desa di satu wilayah dan berikan apa yang diinginkannya, niscaya kalian akan bisa berbuat apa saja termasuk mencuri dari rumah-rumah yang ada di wilayah itu. Namun, datanglah kepada Tuhan dan ikhlaskan apa yang kita perbuat hanya untuk Tuhan, niscaya kita bisa mengambil hati-hati manusia yang menjadi milik-Nya”.

Qara’ati memberikan contoh bagus mengenai perjuangan Imam Khomeini. Beliau berkata, “Jika Anda menyukai saya, dan saya pun menyukai Anda. Namun ketika Anda melemparkan sorban saya ke jalan, atau saya menyiramkan air ke muka Anda, persahabatan kita mungkin akan lenyap hanya dengan tindakan yang kecil itu. Ketika Imam Khomeini meminta para pengikutnya untuk turun ke jalan, banyak dari mereka yang syahid atau cedera berat. Namun tetap saja orang masih banyak yang mencintai Imam Khomeini.

Banyak media di berbagai negara yang menjelek-jelekkan perjuangan Imam, tetapi Allah menggunting lidah-lidah mereka dan orang masih tetap cinta pada Imam Khomeini. Sebagaimana perjuangan Rasulullah pada masa lalu. Ketika kafir Quraisy mencaci maki beliau dengan sebutan penyair, tukang sihir, bahkan gila. Namun Allah Swt berjanji dalam salah satu firman-Nya akan menghentikan semua caci maki tersebut.

Kini Nabi Muhammad Saw dan musuh-musuhnya telah tiada. Namun, kita bisa melihat akibat akhir dari semua itu, kubur Nabi Muhammad banyak ditangisi oleh jutaan orang sementara musuh-musunya tidak sama sekali. Saddam dan Imam Khomeini saat ini pun telah tiada, namun bisa dilihat di atas kuburan Saddam saat ini tidak ada yang berdiri di atasnya sekalipun seekor kucing, tetapi di sekitar kuburan Imam Khomeini jutaan orang menangisi beliau dan semua ceramah-ceramah Imam disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Inilah bukti apa yang dijanjikan Tuhan sebagai akibat akhir dari orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang ikhlas dan menyerahkan dirinya pada Allah SWT dalam setiap perjuangannya. “

Contoh lainnya, “Bayangkan Anda sekarang memiliki 1000 meter tanah. Namun ketika Anda naik pesawat terbang dan berada di atasnya, tanah yang luas itu terlihat hanya beberapa meter saja. Lebih tinggi pesawat itu, maka tanah itu pun terlihat hanya sejengkal, lebih tinggi lagi pesawat itu, maka tanah itu pun terlihat seperti sabun, bahkan semakin tinggi pesawat itu tanah itu pun terlihat sangat kecil seperti jarum. Itulah contoh semakin tinggi kita mendekatkan diri pada Allah SWT, maka semua yang ada di dunia ini akan terlihat semakin kecil dan tidak ada artinya.” Qara’ati lalu mengutip sebuah doa, “Sangat besar dan agung nama Tuhan di dalam diri-diri mereka, maka sangat kecil segala sesuatu selain Allah Swt.” Semakin dekat kita memahami Allah Swt, maka semakin kecil kita melihat Amerika.

Imam Khomeini dalam perjuangannya dipenjara oleh Syah dan diasingkan ke Perancis. Setelah dari pengasingan Imam Khomeini kembali ke Iran. Seperti kisah Nabi Musa yang dilahirkan dan disusui oleh ibunya, lalu dilepaskan di sungai dan jauh pergi. Namun, kemudian Allah Swt mengembalikan Nabi Musa as kepada ibunya. Imam Khomeini juga demikian. Setelah beliau diasingkan dari satu tempat ke tempat lain, ke Turki, Irak, dan Paris, namun kemudian Allah Swt mengembalikan Imam Khomeini ke negaranya.

Ayatullah Qara’ati lalu memberikan penjelasan mengapa Imam Khomeini dicintai oleh orang lain. Seperti diungkapkan dalam al-Quran, bahwasanya barangsiapa yang beriman dan beramal saleh, maka Allah Swt akan memberikan kecintaan di hati setiap manusia kepadanya.

Setelah kembali ke Iran, lalu Imam Khomeini pergi ke Irak dan menziarahi kuburan para syuhada. Beliau berkata, “Dengan tangan ini aku akan memukul Syah”. Ini sama dengan perkataan Nabi Ibrahim as yang berujar, “Demi Allah, aku akan menghancurkan berhala-berhala itu!” Dan apa yang dilakukan oleh Imam Khomeini merupakan percikan dan jejak dari apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as.

Imam Khomeini menulis banyak surat di antaranya kepada Presiden uni Soviet saat itu Mikail Gorbachev. Sebagaimana Nabi Sulaiman as yang mengirim surat kepada Ratu Balqis. Dengan ibadah-ibadah Imam Khomeini, kecintaan, gigihnya perjuangan beliau, lalu revolusi Islam Iran menjadi menang.

Imam Khomeini mengatakan, “Syi’ah dan Sunnah kedua-duanya sama-sama Islam. Kita punya 5 jari dalam satu lengan. Ja’fari, Syafi’I, Hambali, Maliki, Hanafi. Jari-jari kita tidak menjadi satu tetapi berpisah sendiri-sendiri tetapi di hadapan musuh jari-jari itu menyatu untuk memukul musuh.”

Imam Khomeini juga berpendapat bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Antara anak kecil dan orang tua pun sama. Imam di antaranya pernah berkata, “Aku akan mencium tangan orang tua yang menjual sayur di pasar”. Di lain kesempatan, Imam berkata ketika ada seorang anak yang ikut perang dan berhasil membom musuhnya, “Ini adalah tangan Imam saya. Saya adalah pengikutnya. ” Imam Khomeini betul seorang pemimpin (rahbar), tetapi beliau mengatakan, “Jangan sebut saya Imam, saya adalah pelayan kalian”.

Dalam penutup ceramahnya, Ayatullah Qara’ati berpesan bahwa, di sini kita berkumpul untuk mengenang wafatnya Imam Khomeini, maka kita harus mengikuti jejak beliau, mengikuti al-Quran dan apa yang ditunjukkan oleh para Nabi dan para Imam suci. Qara’ati juga berpesan untuk tidak usah takut dalam mengemban misi suci tersebut, karena seperti dikatakan dalam al-Quran, walaupun semua kekuatan dikumpulkan niscaya tidak akan mampu untuk menciptakan seekor lalat yang kecil sekalipun. Hari ini Hasan Nasrullah maju dengan nafas Imam Khomeini. Ahmadinejad adalah anak didik Imam Khomeini. Kemana pun nafas Imam Khomeini pergi maka ia akan menjadikannya sebagai pemberani.

Qara’ati juga mengajak agar semua umat Muslim lebih bersatu sebagaimana juga saat ini umat Yahudi dan Nasrani sama-sama bersatu, Israel dan Amerika pun bersatu. Oleh karena itu, Syi’ah dan Sunnah harus bersatu. Antara Syi’ah dan Sunnah memiliki banyak persamaan, Tuhan kita adalah satu, Nabi kita adalah satu, al-Quran kita satu, kiblat kita satu, bulan Ramadhan kita sama, haji dan jihad kita sama, dan sebagainya.

Oleh : Syafii Maarif di republika

Resonansi ini tidak akan banyak membicarakan reputasi Barack Obama (46 tahun) yang namanya melonjak sontak di dunia internasional karena senator Illinois dan dosen Universitas Chicago ini tampil sebagai penantang utama Hillary Clinton dalam konvensi Partai Demokrat tahun depan, dan jika menang, akan diperlagakan kemudian dengan calon presiden dari Partai Republik dalam Pemilu 2008.
Ada sisi lain yang patut disimak dari tokoh yang berasal dari darah campuran seorang ibu kulit putih dari Kansas dan ayah dari Kenya berkulit hitam. Orang tuanya berpisah saat Obama berusia dua tahun, kemudian kawin lagi dengan Lolo Soetoro dari Indonesia ketika Obama berumur enam tahun, selanjutnya pasangan ini juga berpisah. Obama sempat tinggal di Jakarta selama empat tahun.
Semua info di atas dapat disimak dalam otobiografi Obama, The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming The American Dream (Keberanian Harapan: Pemikiran untuk Meraih Kembali Impian Amerika), terbit tahun 2006. Yang saya baca adalah terjemahannya oleh Ruslani dan Lulu Rahman dengan judul Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih, terbitan Ufuk Press, 2007.
Sesuai dengan fokus tulisan ini, mari kita lihat bagaimana Obama memandang agama dan keluarganya (hlm 155-163), diceritakan dengan lugas, datar, tanpa beban, sebuah sikap yang biasa terlihat pada manusia yang percaya diri. Tetapi, di bagian akhir saya akan kembali menyinggung selintas tentang Obama sebagai politikus untuk melihat serbakemungkinan bagi Amerika dan dunia, sekiranya ia terpilih jadi presiden Amerika.
Sekalipun nenek moyangnya dari garis ibu tampak seperti orang taat ke gereja … ”keyakinan agama tidak pernah benar-benar berakar dalam hati mereka. Nenek saya selalu terlalu rasional dan terlalu keras untuk menerima apa pun yang tidak dapat dilihat, dirasakan, disentuh, atau dihitungnya. ” (Hlm 156). Ayah kakeknya dari pihak ibu menghilang tidak tentu rimbanya, lalu disusul oleh tragedi bunuh diri sang istri (hlm 155).
Ini direkamkan Obama tanpa emosi karena itu sudah merupakan fakta telanjang yang tak perlu disembunyikan. Barangkali karena kelugasan inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa The Audacity telah dinobatkan sebagai karya terlaris oleh New York Times belum terlalu lama berselang. Berita semacam ini tentu telah disimak kubu Hillary dengan penuh kewaspadaan, sebab dalam konvensi politik sebuah partai, calon tidak boleh menganut filosofi bus kota, ‘’sesama bus kota tidak boleh saling mendahului” .
Obama sangat hormat kepada ibunya yang seorang antropolog, namun kerinduan kepada ayah yang telah meninggalkannya dalam usia yang sangat dini juga tidak pernah pupus. Sekalipun ibunya menghormati semua kitab suci agama: Bibel, Alquran, dan Bhagawat Gita yang dijejerkan di atas rak, kritiknya terhadap agama formal cukup menyengat. Bagi ibunya, Ann Dunham, ”… agama formal terlalu sering menutupi ketertutupan pemikiran dengan jubah kesalehan, menutupi kekejaman dan penindasan dalam jubah kebenaran.” (hlm 157). Ini adalah bahasa Obama tentang sikap ibunya yang sekaligus tentu telah turut membentuk watak sang anak.
Bagaimana dengan ayahnya, Barack Hussein Obama Sr? Walaupun ayahnya terlahir dan dibesarkan sebagai seorang Muslim, Obama tidak ragu menulis kalimat ini: ”… pada saat beliau bertemu dengan ibu saya beliau sudah menjadi seorang ateis yang kuat, yang menganggap agama sebagai terlalu banyak mengandung takhyul, seperti mumbo-jumbo [omong kosong] para cenayang [pawang/dukun] yang sering kali beliau saksikan di kampung-kampung Kenya pada masa mudanya.” (hlm 158). Obama sendiri adalah penganut Kristen, sekalipun belum dibaptis.
Pertanyaan sentral yang tidak boleh dilewatkan selanjutnya adalah: Bagaimana jika Obama benar-benar terpilih jadi presiden Amerika menggantikan Bush bulan November tahun depan? Ada beberapa kemungkinan jawaban: Pertama, dunia akan kembali mempercayai demokrasi Amerika yang berani memilih seorang kulit hitam sebagai presiden. Apalagi jika Obama melakukan banting stir dalam politik luar negeri Amerika yang imperialistik di bawah Bush.
Kedua, Partai Demokrat akan semakin harum namanya pada tataran global karena apa yang beraroma rasialis telah dikuburnya. Ketiga, Amerika di bawah Obama akan dimaafkan dunia atas segala petualangan biadab yang dilakukan pendahulunya, jika Obama setelah terpilih juga minta maaf kepada umat manusia yang teraniaya akibat praktik terorisme negara yang dikomandani negara adikuasa ini selama sekian dasawarsa.
Akhirnya, terbetik juga kekhawatiran saya bahwa kekuasaan Obama, jika benar-benar terpilih, tidak akan bertahan lama karena akan berlaku pembunuhan politik atas dirinya, dilakukan oleh petualang rasialis yang masih gentayangan di muka bumi, tidak terkecuali di Amerika Serikat. Semoga tragedi semacam tidak akan terjadi dan Obama akan membuktikan impiannya untuk menampilkan Amerika sebagai bangsa yang punya hati nurani. Obama adalah penentang keras terhadap invasi atas Irak yang disebutnya sebagai ”… sebuah perang yang tolol, perang yang gegabah …” (hlm 65). Mari sama kita nantikan apa yang akan berlaku tahun depan di Amerika Serikat.

http://www.pikiran- rakyat.com/ cetak/2007/ 062007/10/ 0103.htm

New York, (PR).-

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dalam sidang pada
Jumat (8/6) waktu setempat di Markas Besar PBB, New York, AS, gagal
mengesahkan pernyataan pers yang berniat mengutuk keras pernyataan
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad soal kehancuran Israel, karena
Indonesia yang menjadi salah satu dari 15 anggota, menolak
pengesahannya.

Wakil Tetap Prancis untuk PBB, Jean-Marc de La Sabliere, usai sidang
menyatakan penyesalannya, karena DK PBB gagal mengeluarkan pernyataan
mengutuk Iran.

“Mayoritas anggota dewan menginginkan adanya pernyataan mengutuk.
Tapi, sayangnya kita tidak dapat mengesahkan rancangan itu hari ini
karena ada keberatan dari salah satu negara,” katanya, tanpa menyebut
nama Indonesia.

Kalangan diplomat internasional di Markas Besar PBB mengatakan, saat
sidang, Indonesia–yang diwakili oleh Deputi Wakil Tetap RI untuk
PBB, Hasan Kleib–menjadi satu-satunya negara yang langsung
menyatakan menolak pengesahan pernyataan kutukan terhadap Iran dan
akan berkonsultasi dahulu dengan Jakarta.

Sementara itu, satu negara lainnya, yaitu Qatar, tidak memberi
pernyataan apa pun, dan mengatakan pihaknya akan berkonsultasi dahulu
dengan Doha sebelum menyatakan setuju atau tidak terhadap pengesahan
pernyataan tersebut.

Dua hari sebelumnya, yaitu pada Rabu (6/6), Perwakilan Tetap Israel
untuk PBB di New York mengirimkan surat kepada DK PBB untuk
menanggapi pernyataan Ahmadinejad saat berpidato pada tanggal 3 Juni
2007.

Ahmadinejad dikutip saat mengatakan, “Dengan pertolongan Tuhan,
tombol detik-detik kehancuran rezim Zionis sudah mulai ditekan oleh
tangan-tangan anak-anak Lebanon dan Palestina.”

Baik La Sabliere maupun Wakil Tetap AS untuk PBB, Zalmay Khalilzad,
menganggap pernyataan Ahmadinejad sebagai masalah serius. “Kita tidak
boleh mengabaikannya. Presiden salah satu negara bicara tentang
penghancuran suatu negara lainnya yang merupakan anggota PBB, kami
anggap Dewan Keamanan harus bereaksi,” kata La Sabliere.

Dubes La Sabliere mengatakan, DK akan kembali bertemu pada Senin
(11/6) untuk mencoba kembali upaya menuju pengesahan. Namun, sejumlah
kalangan memperkirakan pengesahan itu akan menemui jalan buntu karena
pernyataan keberatan Indonesia.

Alasan

Hasan Kleib, saat ditemui Antara menyebutkan setidak-tidaknya ada
tiga alasan yang membuat Indonesia menolak pengesahan.

Pertama, Indonesia menganggap DK PBB kurang adil, mengeluarkan suatu
reaksi atas pilihannya sendiri, dan dalam hal memenuhi permintaan
Wakil Tetap Israel, agar DK PBB melakukan tindakan terhadap Presiden
Iran. “Sementara itu, Dewan Keamanan sama sekali tidak memberikan
reaksi, walaupun kita minta berulang kali, terhadap isu-isu lain yang
lebih jelas mengancam perdamaian dan keamanan internasional, ” kata
Hasan.

Dia mencontohkan, tindakan penculikan dan penahanan yang dilakukan
oleh Israel terhadap anggota kabinet dan parlemen Palestina; rencana
Israel membunuh Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Mishal ataupun
perusakan setiap hari yang dilakukan Israel di wilayah
penduduk. “Terhadap kasus-kasus tersebut, Dewan Keamanan sama sekali
tidak mengeluarkan satu pun pernyataan kepada media,” ujar Hasan
tegas.

Kedua, Indonesia menganggap pernyataan Ahmadinejad pada Minggu (3/6)
itu bersifat retorika–yang disampaikan dalam rangka peringatan 18
tahun wafatnya Imam Khomeini–sehingga bukan merupakan ancaman
terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

Ketiga, Indonesia melihat rancangan pernyataan pers DK PBB tidak
mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi. “Tidak sesuai dengan
pernyataan Presiden Iran sendiri. Ahmadinejad tidak mengatakan Iran
akan menyerang Israel,” kata Hasan.

Selain itu, penyebutan “Negara Israel” dalam rancangan pernyataan
pers, ujar Hasan, tidak sama dengan apa yang telah disebutkan oleh
Sekjen PBB Ban Ki-Moon, yang mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap
pernyataan Presiden Iran. “Seperti yang disampaikan oleh Sekjen PBB,
bahkan surat dari Watap Israel sendiri, yang disebut bukan ‘Negara
Israel’ melainkan ‘Rejim Zionis’,” katanya. (Rtr)***

Oleh : Irman Abdurrahman

Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran, kembali membuat marah Israel. Dalam orasinya pada peringatan wafatnya Ayatullah Khomeini (3 Juni 2007), Ahmadinejad, seperti dikutip Jerusalem Post, menyatakan bahwa, “…kehancuran Israel sudah dekat”. Dan seperti biasanya, pernyataan tersebut juga kontan membuat Eropa—yang tampaknya tak pernah bisa berlepas dari ‘dosa’ historis holocaust— merah padam. Menlu Spanyol dan Menlu Perancis langsung menyampaikan kecaman resmi negaranya. Bagi keduanya, kata-kata Ahmadinejad harus mendapatkan respon dunia yang keras.

Ini bukan kali pertama Ahmadinejad menyampaikan pernyataan kontroversial terhadap rezim Zionis Israel. Satu pernyataan lainnya yang memicu kontroversi internasional dan dikutip hampir seluruh media pemberitaan dunia adalah, ketika pada sebuah konferensi bertajuk “The World Without Zionism” (Oktober 2005), Ahmadinejad menyatakan, “…Israel harus dihapuskan dari peta (dunia).”

Namun, dalam konteks ini, media-media Barat, telah melakukan disinformasi terhadap, bukan hanya konteks, tetapi bahkan teks sekalipun.


Disinformasi yang Sistematis


Kutipan tersohor dari pernyataan Ahmadinejad yang dalam bahasa Inggris kerap diterjemahkan sebagai “Israel must be wiped off the map” sungguh telah mengalami disinformasi yang sistematis. Mengapa demikian?

Pertama, pernyataan tersebut, seperti yang dikutip dari situs berbahasa Parsi ahmadinejad. ir, sebenarnya berbunyi, “Imam ghoft een rezhim-e ishghalgar-e qods bayad az safheh-ye ruzgar mahv shavad. Di sini, Nejad secuil pun tidak menyebut “Israel“, baik sebagai wilayah maupun bangsa. Ahmadinejad sebaliknya menggunakan sebuah frase spesifik, rezhim-e ishghalgar-e qods (‘rezim yang menjajah al-Quds’). Fakta ini menghadirkan perbedaan yang signifikan, karena sebuah rezim—tidak seperti wilayah atau negara suatu bangsa—bukanlah entitas yang bisa dihapus dari ‘peta dunia’.

Kedua, dalam pernyataan tersebut, tidak terdapat kata nagsheh (Parsi) sebagai padanan kata peta (map).  Ketiga, kata to wipe out (menghapus) merupakan kesalahan penerjemahan yang diakibatkan oleh ketidakpahaman akan konstruksi verba Parsi, mahv shavad, yang digunakan Nejad. Verba tersebut berfungsi intransitif, sehingga padanannya yang lebih tepat adalah to vanish from (‘hilang/lenyap’ ) bukan to wipe out (‘menghapus’ ) atau to eliminate (‘menghancurkan’ ).

Luar biasa, dunia sudah dibuat percaya bahwa Presiden Iran telah mengancam akan “menghapus Israel dari peta (dunia)” meskipun dia tidak pernah mengucapkan kata peta, menghapus, dan bahkan Israel.

Lantas, apa terjemahan yang mendekati pernyataan tersebut? Tepatnya, inilah yang dikatakan Ahamdinejad, “Imam (Khomeini) berkata rezim yang menjajah al-Quds ini akan lenyap dari lembaran masa (sejarah).” Sejatinya, Nejad hanya mengungkapkan sebuah logika sejarah, bahwa penguasa atau rezim yang zalim serta menindas tidak akan pernah bertahan dalam lembaran sejarah.

Implikasi seperti itu terkait dengan konteks bahwa, dalam keseluruhan pernyataannya, Nejad menganalogikan lenyapnya rezim Zionis dengan rezim-rezim lain, seperti Shah Iran dan rezim komunis Uni-Soviet. Pertanyaanya, adakah kedua rezim itu runtuh karena bombardir militer atau serangan nuklir? Bukankah kedua rezim itu runtuh karena rakyat yang mereka tindas tidak lagi menginginkan mereka? Adakah Shah Iran dan rezim komunis  Soviet tumbang dengan disertai lenyapnya bangsa Iran dan Rusia?

Dalam konteks seperti di ataslah, kita harus memahami pernyataan Nejad terbaru bahwa, “…kehancuran Israel sudah dekat.” Seperti dikutip dari IRNA, pernyataan ini terkait dengan sepak terjang Israel di Palestina dan Lebanon dalam setahun terakhir. Bagi Nejad, jika rezim Zionis tetap meneruskan penindasan terhadap Palestina dan mengulangi invasi militer ke Lebanon, maka “bangsa Palestina dan Lebanon akan menekan tombol ‘hitung mundur’ untuk membawa kehancuran bagi Israel.” Lagi-lagi logika sejarahlah yang ingin disampaikan Nejad, bahwa bangsa-bangsa terjajah yang menuntut kemerdekaan akan melawan dan menghancurkan siapa pun rezim penjajah mereka.


Konteks yang Tak Terkatakan


Terlepas dari pernyataan-pernyata an Nejad yang mengalami disinformasi, dan yang ingin dikesankan sebagai pernyataan anti-Semit, terdapat hal-hal substansial yang luput dari pemberitaan media Barat.

Pertama, sikap Iran dalam konflik Palestina-Israel. Seperti pernah diungkapkan Nejad sendiri, “Iran bukanlah ancaman bagi negara manapun,…bahkan bagi Israel sekalipun. Kami ingin menyelesaikan persoalan di sana (konflik Palestina-Israel) secara damai, melalui referendum” ( kayhannews.ir). Referendum yang diikuti setiap penduduk asli tanah Palestina, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi, adalah solusi yang pernah diajukan Iran secara resmi, baik dalam forum PBB maupun OKI.

“Solusi satu-negara” (one-state solution) bukanlah milik Iran semata. Pemikir-pemikir Yahudi, seperti Noam Chomsky dan Uri Avnery, pun memandang solusi ini sebagai yang terideal, meski konon tidak ‘realistis’. “Solusi dua-negara” (two-state solution), seperti yang konon berlaku sekarang, bahkan dipandang banyak aktivis hak asasi manusia sebagai sebuah halusinasi, mengingat karakter rasis dan apartheid rezim Zionis. “Solusi satu-negara” melalui referendum adalah penyelesaian yang paling beradab bagi semua pihak tetapi jelas tidak bagi rezim rasis Zionis.

Kedua, fakta bahwa 30 ribu lebih orang Yahudi hidup dengan tenang dan damai di Iran, sebuah jumlah komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah. Terlebih lagi, mereka pun memiliki representasi di parlemen Iran. Jika memang pernyataan Nejad tersebut dipandang anti-Semit, maka apa kata dunia tentang penindasan rezim Zionis terhadap bangsa Arab Palestina? Bukankah orang-orang Arab juga anak keturunan Sem putra Nuh? Jika pernyataan Nejad dianggap sebagai pernyataan pemusuhan, maka apa kata dunia terhadap George W. Bush yang menyandingkan Islam dengan fasisme, “islamofasisme” . Apa pula kata dunia kepada senator sekaligus kandidat presiden AS, John McCain, yang menyenandungkan lagu berirama reggae, “Bom…bom.. .bom Iran.” Adakah dunia pernah menyebut semua itu sebagai pernyataan pemusuhan?

Dalam memperingati 40 tahun penjajahan rezim Zionis terhadap al-Quds (Perang Enam Hari 5-10 Juni 1967), sudah semestinya bangsa-bangsa di dunia, yang mencintai peradaban dan keadilan serta menghargai martabat kemanusiaan, bangkit dan menegaskan sikap untuk membantu bangsa Palestina yang tertindas serta menjaga al-Quds, sebagai tempat suci agama-agama Tuhan, dari tindakan vandalisme rezim Zionis.

Imam Khomeini dalam kondisi sakit. Suatu malam ketika hendak tidur beliau berkata, “Besok subuh tolong saya dibangunkan untuk melaksanakan salat subuh”.

Keesokan harinya, 10 menit telah berlalu dari suara azan salat subuh. Imam Khomeini tanpa dibangunkan beliau bangun sendiri dan bertanya, “Apakah waktu salat subuh telah tiba?” Dijawab, “Ia, waktu subuh telah tiba”. Imam kembali bertanya, “ Mengapa saya tidak dibangunkan? ” Dijawab, “ 10 menit baru berlalu dari salat subuh. Karena kondisi Anda masih belum sembuh benar, Anda tidak kami bangunkan”.

Imam Khomeini dengan perasaan tidak enak berkata, “ Panggilkan Ahmad (anak beliau) ke sini! ”

Ketika Ahmad tiba di hadapannya, Imam Khomeini berkata, “Selama ini saya senantiasa melaksanakan salat di awal waktu. Namun, setelah hidup sekian lama, kalian telah mengakibatkan saya melakukan salat terlambat 10 menit dari waktu salat subuh ”.

[infosyiah]

Kumulai tulisan ini dengan sebuah hadis Rasulullah, dimana beliau telah bersabda kepada putrinya, Fathimah Zahro: “Sesungguhnya Allah SWT akan murka karena murka-mu (Fathimah .red), dan akan ridho karena ridho-mu”. (Lihat: Kanzul-Ummal hadis ke- 37725 karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi yang dinukil dari Kitab Muntakhab Mizan al-Hikmah hal: 16). Jelas hadis tadi tidaklah keluar dari Nabi Muhamad saww karena nepotisme sebagai putrinya, akan tetapi berdasarkan kehendak Tuhannya. Bukankah dalam surah Najm ayat 3-4 Allah swt telah berfirman: “Dan tidaklah ia (Muhammad .red) berkata melainkan wahyu yang telah diturankan kepadanya”.

Langit berkabung menyertai duka cita akan kepergian perempuan mulia penghulu para wanita,  bagian jiwa Nabi saww, pemilik syafa’at, penghulu para wanita ahli surga, neraca keridhoan dan kemurkaan Allah, putri makhluk paling sempurna dan penutup para nabi; dialah Bunda Fathimah Zahro as. Lidah kelu untuk mengucapkan kata-kata pujian untuknya. Bunda Fathimah Zahro as ialah salah satu jalan manusia untuk mendapat keridhoan Tuhannya.

Berdasarkan salah satu riwayat, hari ini merupakan hari wafat beliau, karena terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hari wafat beliau. Sebagian berpendapat, beliau wafat 75 hari setelah wafat Nabi Muhamad saww. Sebagian lagi mengatakan beliau wafat 95 hari setelah wafat ayahanda beliau. Salah satu penyebab perbedaan pendapat ini adalah karena wafat beliau dirahasiakan oleh keluarga beliau. Begitu pula pelaksanaan memandikan, mengkafani dan memakamkan jasad suci beliau. Oleh karenanya, hingga saat ini tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti dimana makam beliau, kecuali Imam Mahdi aj yang masih keturunan beliau.

Di sini, kita akan mencoba kembali melihat detik-detik menjelang wafat beliau. Sewaktu beliau sudah merasakan ajalnya akan tiba, lalu beliau mandi merapihkan keadaan rumah dan membersihkan anak-anaknya. Setelah itu, kemudian beliau kembali membaringkan tubuhnya yang sangat lemah, akibat sakit parah yang dideritanya. Dengan penuh rasa hormat lalu beliau berkata kepada suami tercintanya, Imam Ali as: “Wahai anak pamanku, hari ini aku akan berpisah dengan dunia. Aku yakin tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, dan aku akan pergi menyusul ayahku. Oleh karena itu aku akan berwasiat kepadamu”.

Imam Ali as berkata: “Wahai putri Rasulullah, semoga Alloh memberi keselamatan kepadamu. Katakan apa yang engkau inginkan!?”. Kemudian Imam Ali as duduk di sampingnya dan menyuruh beberapa orang yang sempat berkumpul di tempat itu untuk  keluar dari kamar tempat pembaringan istrinya sehingga beliau dapat leluasa mengutarakan semua rahasianya. Kemudian Sayyidah Fathimah Zahro as berkata: “Wahai anak pamanku, bukankah tidak engkau dapatkan diriku berbohong dan berkhianat kepadamu? Dan bukankah aku tidak pernah menentangmu?” .

Imam Ali as berkata: “Aku berlindung kepada Allah, engkau adalah orang yang lebih mengenal Allah. Engkau adalah orang yang terbaik, orang yang paling bertakwa dan orang yang paling mulia…yang paling aku takutkan dari Tuhanku ialah….. Sungguh telah membuatku sedih dan berduka atas perpisahan dan kepergianmu. Namun harus bagaimana lagi, ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sumpah demi Allah, kepergianmu telah menambah kesedihanku atas musibah kepergian Rasulullah. Dan ketahuilah, sungguh agung musibah yang kuhadapi dengan kepergianmu dan ketiadaanmu. Dan sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”.

Kemudian kedua insan mulia lagi sempurna tersebut menangis karena perpisahan yang akan mereka hadapi. Setelah itu, Imam Ali as meletakkan tubuh suci Sayyidah Fathimah Zahro as di dadanya seraya berkata: “Wahai wanita mulia, ibu terbaik bagi anak-anakku, katakan jika engkau ingin berwasiat. Dan ketahuilah, Ali lelaki setia yang akan melaksanakan segala perintahmu. Dan aku akan mendahulukan keinginanmu dari pada keinginanku, sesulit apapun keinginanmu itu”.

Sayyidah Fathimah Zahro berkata: “Tuhan Maha Pengasih akan memberikan pahala teragung kepadamu. Wahai Ali sayang, wasiat pertamaku setelah kepergianku adalah, engkau harus menikah dengan anak saudariku (bernama Ummul Banin .red), karena ia merupakan ibu yang sangat penyayang terhadap anak-anakku yang masih kecil-kecil itu. Selain itu, dalam mengatur urusan rumahmu engkau memerlukan keberadaan seorang istri”.

Beliau melanjutkan: “Wahai anak pamanku, mandikanlah jenazahku pada malam hari (dalam riwayat lain dikatakan beliau berwasiat agar dimandikan dalam keadaan mengenakan pakaian karena badannya telah suci dan bersih .red). Dan kafani jenazahku pada malam hari. Serta kuburkan jasadku pada waktu malam hari. Janganlah engkau izinkan orang-orang yang telah menzalimiku menghadiri pengiringan jenazahku dan menshalatinya, karena mereka adalah musuh-musuh Allah swt dan Rasul-Nya”.

Seusai berwasiat, lantas beliau memerintahkan untuk memindahkan pembaringannya di tengah ruangan. Lantas beliau berbaring menghadap kiblat dan merenung. Dalam sebagian hadis dikatakan bahwa beliau telah mengirim para putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ke rumah perempuan Bani Hasyim, agar mereka tidak menyaksikan detik-detik kepergiannya yang akan menyedihkan mereka. Bahkan dalam sebagian riwayat dijelaskan pula bahwa kala itu karena ada keperluan yang mendesak, atau karena yang lainnya Imam Ali as dan kedua putranya (Hasan dan Husein as .red) pergi keluar rumah.

Oleh karena itu, kedua putra beliau diakhir ajal beliau tidak berada di sisi ibundanya, sehingga harus menyaksikan kepergian ibu yang sangat mereka cintai. Hanya Asma’ (sebagian mengatakan Fiddhah al-Hindi, murid dan pembantunya .red) yang berada di sampingnya. Detik-detik menjelang ajal beliau telah tiba. Lantas beliau mengucapkan: “Salam atasmu wahai malaikat Jibril. Salam atasmu wahai Rasulullah. Ya Allah, hamba bersama Rasul-Mu. Ya Allah, tempatkan selalu hamba pada keridhoan-Mu, di sisi-Mu, di rumah-Mu, yaitu rumah keselamatan dan kedamaian”.

Lantas beliau bertanya: “Apakah kalian tidak melihat yang sedang aku lihat?”. “Aku melihat rombongan para malaikat langit. Itu malaikat Jibril dan itu adalah ayahku yang berkata: “Wahai putriku, cepatlah kemari. Apa yang ada dihadapnmu lebih baik bagimu…”. Setelah itu beliau menutup kedua belah matanya seraya bibirnya berkomat-kamit: “Hamba kembali menuju-Mu wahai Tuhan-ku, bukan menuju api neraka”. Dan akhirnya beliaupun pergi meninggalkan alam fana ini.

Menyaksikan hal itu Asma’ merangkul tubuh bunda Fathimah Zahro as sambil menangis dan memanggil nama mulia beliau: “Wahai junjunganku, wahai Fathimah, ketika engkau bertemu dengan ayahmu sampaikan salamku kepadanya”. Di saat terdengar suara teriakan, maka datanglah Imam Hasan dan Imam Husein as. Ketika mereka melihat ibunya terbaring, lantas mereka berkata: “Wahai Asma’, ibuku tidak pernah tidur pada jam-jam segini, kenapa beliau diam saja?”. Asma’ dengan raut wajah sedih berkata: “Ibu kalian tidaklah tidur, melainkan ia telah meninggalkan dunia yang fana ini”.

Mendengar hal itu lantas Imam Hasan as (saat itu kurang lebih berusia 7 tahun .red) menjatuhkan tubuhnya di tubuh ibundanya seraya menciumi berkali-kali kedua kakinya. Lalu beliau berkata: “Wahai ibunda, berbicaralah denganku sebelum terpisahnya jiwaku dari ragaku”. Lantas Imam Husein as (saat itu kurang lebih berusia 6 tahun .red) pun melakukan hal yang sama seraya berkata: “Wahai ibunda, aku adalah Husein puteramu. Berbicaralah denganku sebelum jantungku berhenti berdetak, maka kala itu aku meninggal”. Dan seterusnya, saya tidak sanggup untuk meneruskannya. Pada kesempatan lain kita teruskan lagi, sekarang yang hanya dapat kita lakukan hanyalah sekedar untuk mengambil berkah dan mengenang kepergian putri Rasulullah saww. Sebagai perwujudan rasa duka cita atas kepergiannya manusia termulia penghulu para wanita.  

Wasiat terakhir beliau yang mungkin membuat kita bertanya-tanya; kenapa beliau berwasiat seperti itu? Dan memang setelah itu Imam Ali as membuat kurang lebih 40 gundukan yang mirip seperti kuburan, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kuburannya kecuali orang tertentu yang turut mengusung jenazahnya. Dan hingga sekarang ini tidak seorangpun mengetahui dengan jelas di mana makam suci wanita paling mulia tersebut kecuali para Imam maksum as dari keluarga Rasul. Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu?  Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww.

Wahai bunda Fathimah…!

Engkau penjelmaan cahaya Tuhan…

Engkau Penjelmaan kesempurnaan- Nya…

Dan engkau neraca keridhoan dan kemurkan-Nya. ..

Syafa’ati kami di hari penghisaban semua amal….  

Sumber : Soraya L pada islamalternatif

[1] Muhamad Kazim Qazwini, Fathimah minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Persia.

[2] Pur Sayyid Oghoi, Cesyme dar Bastar.

[3] Muhamad Rey Syahri, Muntakhab Mizan al-Hikmah.

  Tuan Presiden….
 
Data-data sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan yang berada dalam jalur kezaliman tidak pernah bertahan lama. Tuhan tidak menyerahkan nasib manusia di tangan penguasa zalim. Tuhan tidak membiarkan dunia dan manusia begitu saja. Bukankah sudah banyak kejadian yang
bertolak belakang dengan rencana-rencana para penguasa. Kejadian-kejadian sejarah menunjukkan bahwa ada kekuatan misterius di atas segalanya di balik semua ini yang mengatur semua hal.
 
 
 
————————————————————–
  Tuan George. W. Bush Presiden Amerika Serikat…
 
  Dalam beberapa waktu Saya sempat berpikir, bagaimana
  bisa kontradiksi yang tidak dapat diingkari dalam kancah dunia
  internasional ini, di mana masyarakat dan pada khususnya di kalangan politik
  dan mahasiswa, dapat dibenarkan. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan
  tentang hal ini yang tak   terjawab. Karena itu saya kemudian memutuskan agar
  sebagian dari   kontradiksi dan pertanyaan-pertanyaan itu bisa saya
  tanyakan. Mungkin akan ada kesempatan untuk membenarkan masalah tersebut.
 
  Apakah bisa; pengikut Jesus Christ (Nabi Isa A.S).
  sebagai salah satu Nabi besar ilahi dapat berpegang teguh dengan hak-hak
  asasi manusia dengan menjadikan Liberalisme sebagai model peradaban
  dengan memperluas persenjataan nuklir dan pembunuhan massal untuk
  menunjukkan ketidaksetujuannya dan menjadikan peperangan melawan
  terorisme sebagai slogannya?
 
  Pada akhirnya, untuk membentuk masyarakat yang satu
  dan universal tetap harus diusahakan. Sebuah masyarakat yang akan
  diperintah oleh Nabi Isa A.S. dan orang-orang baik di muka bumi.
 
  Namun pada saat yang sama;
 
  Negara-negara diserang. Jiwa, kehormatan, keberadaan
  orang-orang dan nilai-nilai kemudian runtuh. Sebagai contoh, hanya
  dikarenakan adanya sebuah kemungkinan keberadaan beberapa orang pelaku
  kriminal di sebuah  desa,

kota atau bersama sebuah iring-iringan,
  seluruh desa,

kota dan iring-iringan harus dibabat habis.
 
  Atau dengan kemungkinan keberadaan senjata pemusnah
  massal di sebuah negeri lalu negeri tersebut dikuasai? Sekitar
  ratusan ribu masyarakat  negara itu harus tewas. Sumber-sumber air, pertanian
  dan industri rusak dan sekitar 180.000 pasukan militer tinggal di

sana.
 
  Kehormatan yang dimiliki oleh rumah-rumah masyarakat
  telah dihancurkan dan mungkin sekitar lebih dari 50 tahun sebuah negara
  menjadi terkebelakang. Dengan anggaran belanja seperti apa? Dengan
  menghabiskan miliaran dolar dari harta kekayaan sebuah negara dan sebagian
  negara yang lain atau dengan mengirimkan puluhan ribu pemuda sebagai
  pasukan penyerang. Meletakkan mereka di tempat pembunuhan serta
  menjauhkan mereka dari keluarganya, mengotori tangan mereka dengan darah
  orang lain, menekan jiwa mereka sehingga setiap hari sejumlah dari mereka
  melakukan tindakan bunuh diri. Ketika mereka kembali ke negara mereka
  masing-masing tersiksa dan tertekan di sertai dengan penyakit yang beragam.
  Sebagian lainnya telah terbunuh dan jenazah mereka telah diterima oleh
  keluarga mereka.
 
  Hanya dengan alasan adanya senjata pemusnah massal,
  sebuah tragedi besar telah tercipta baik untuk masyarakat yang negaranya
  dijajah atau penjajah. Sementara pada akhirnya jelas bahwa senjata pemusnah
  massal tidak pernah ada.
 
  Namun tetap saja bahwa Saddam Husein adalah seorang
  diktator dan pembunuh. Namun tujuan peperangan yang dilakukan bukan untuk
  menumbangkannya tapi usaha untuk menemukan senjata pembunuh massal yang
  sudah diumumkan sebelumnya. Saddam dalam rangkaian ini telah
  tumbang. Masyarakat sekitarnya merasa senang dengan tumbangnya Saddam.
  Pada peperangan yang dipaksakan kepada

Iran, Saddam di bantu dan dibela
  oleh Barat.
 
  Tuan Presiden…
 
  Mungkin Anda telah tahu bahwa saya hanya seorang
  dosen. Mahasiswa saya sering mempertanyakan bagaimana aksi-aksi yang ada
  ini disesuaikan dengan nilai-nilai yang telah disampaikan di awal

surat
  saya dengan agama Nabi Isa A.S. seorang Nabi perdamaian dan kasih sayang?
 
  Mereka yang tertuduh dan dipenjara

Guantanamo yang
  tidak bakal diadili secara adil, tidak memiliki akses untuk mendapat
  pembelaan dari seorang pengacara. Keluarga mereka tidak diperkenankan untuk
  melihat mereka dan di luar dari negaranya sendiri diisolir sementara tidak
  ada pengawasan internasional untuk mereka. Tidak jelas posisi
  mereka; apakah mereka adalah dipenjara, tawanan perang, tertuduh ataukah
  orang-orang yang telah dihukum?
 
 

Para pengawas Uni Eropa mengakui adanya
  penjara-penjara misterius di Eropa. Saya tidak dapat menerima penculikan dan
  penahanan orang-orang di penjara-penjara misterius itu tanpa adanya sebuah
  sistem peradilan yang berlaku di dunia. Dan saya tidak pernah mengerti
  bagaimana aksi-aksi yang telah dilakukan sesuai dengan nilai-nilai yang telah
  saya sebutkan di atas. Dengan ajaran-ajaran Nabi Isa A.S. ataukah
  hak-hak asasi manusia ataukah dengan nilai-nilai Liberalisme?
 
 

Para pemuda, mahasiswa dan masyarakat banyak
  mempertanyakan tentang fenomena bernama

Israel. Pasti sebagian dari
  pertanyaan-pertanyaan itu telah Anda dengar. Dalam sejarah tercatat banyak
  negara yang telah dijajah. Namun salah satu fenomena kontemporer masa
  kita adalah sebuah pembentukan negara baru dengan masyarakat yang baru
  pula.
 
 

Para mahasiswa berkata, 60 tahun yang lalu tidak  pernah ada negara dengan
  nama ini. Dokumen-dokumen dan peta geografi dunia yang lama ditunjukkan
  oleh mereka sambil berkata, kami telah berusaha sedemikian rupa mencarinya
  namun kami tidak menemukan sebuah negara yang bernama

Israel.
 
  Saya terpaksa menuntun mereka agar mempelajari lagi
  tentang perang dunia pertama dan kedua. Sekali waktu seorang mahasiswa
  berkata, pada perang dunia kedua puluhan juta manusia tewas.
  Berita-berita perang dengan cepat disebarkan dari kedua belah pihak yang berperang.
  Masing-masing memberitakan kemenangannya dan kekalahan lawan.
  Setelah perang dunia kedua selesai mereka mengklaim bahwa ada enam juta orang
  Yahudi tewas. Enam juta orang yang sekurang-kurangnya dari dua juta kepala
  keluarga.
 
  Kita andaikan saja bahwa berita ini benar. Apakah
  kesimpulan logisnya adalah pembentukan sebuah negara

Israel di kawasan
  Timur Tengah dan atau membela mereka habis-habisan? Bagaimana menganalisa
  dan menginterpretasikan fenomena semacam ini?
 
  Tuan Presiden…
 
  Anda pasti telah mengetahui dengan anggaran belanja
  dan pesan-pesan yang seperti apa sehingga

Israel terbentuk;
  · Dengan terbantainya ribuan jiwa.
  · Dengan mengungsikan jutaan jiwa penduduk asli
  kawasan.
  · Dengan penghancuran ratusan ribu hektar sawah,
  kebun zaitun dan   penghancuran kota-kota dan tanah-tanah subur.
 
  Tragedi ini tidak hanya terbatas pada masa  pembentukan saja. Sangat
  disayangkan selama 60 tahun hal ini berjalan dan  akan terus berlanjut.
 
  Rezim yang dibentuk ini bahkan tidak memiliki rasa  belas kasihan terhadap
  anak-anak. Rumah-rumah dihancurkan, rencana teror  tokoh-tokoh Palestina
  dengan terlebih dahulu mengumumkannya serta  memenjarakan ribuan
  orang-orang Palestina. Fenomena ini pada abad-abad  terakhir bila tidak
  dikatakan sulit dicari tandingannya maka tentunya  tidak ada bandingannya.
 
  Pertanyaan besar lainnya dari kebanyakan masyarakat  adalah ini. Mengapa
  rezim yang seperti ini masih harus dibela?
 
  Apakah pembelaan rezim yang semacam ini merupakan  salah satu ajaran Nabi
  Isa A.S. atau sesuai dengan nilai-nilai Liberalisme? 
  Dan apakah memberikan hak untuk menentukan nasib
  sendiri di tanah Palestina kepada pemilik aslinya baik yang tinggal
  di Palestina maupun di luar dan baik mereka itu Islam, Yahudi dan atau
  Kristen, bertentangan dengan demokrasi, hak-hak asasi manusia dan
  ajaran-ajaran para Nabi?
 
  Bila tidak bertentangan mengapa usulan referendum  tidak pernah disetujui?
 
  Akhirnya dengan pilihan rakyat Palestina telah terbentuk pemerintahan di
  tanah Palestina. Semua pengawas yang tidak memihak mengukuhkan bahwa
  pemerintah terpilih dipilih oleh rakyat. Dengan  tanpa disangka pemerintah
  terpilih ditekan sedemikian rupa agar menerimanegara bernama

Israel dan
  tidak lagi meneruskan perjuangan serta melanjutkan program pemerintah
  sebelumnya.
 
  Seandainya pemerintah terpilih saat ini sejak awal  mengumumkan
  kebijakannya seperti yang diinginkan, apakah  masyarakat Palestina akan
  memilih mereka? Apakah sikap yang semacam ini di  hadapan pemerintah
  Palestina sesuai dengan nilai-nilai di atas?
  Demikian pula masyarakat   bertanya-tanya, mengapa resolusi PBB yang telah
  diputuskan di dewan   keamanan PBB terhadap

Israel selalu diveto?
 
  Tuan Presiden…
 
  Anda mengetahui bahwa saya hidup bersama rakyat dan
  punya hubungan dengan mereka. Kebanyakan dari masyarakat Timur Tengah,
  yang dengan berbagai bentuk, melakukan hubungan dengan saya. Mereka
  melihat kebijakan ganda yang ada ini tidak sesuai dengan logika apapun.
  Bukti-bukti menunjukkan bagaimana kebanyakan masyarakat di kawasan dari hari
  ke hari semakin marah dengan kebijakan yang dilakukan.
 
  Saya tidak bermaksud untuk menyampaikan banyak pertanyaan, namun saya
  ingin menunjukkan beberapa poin yang lain.
 
  Mengapa setiap kemajuan keilmuan dan teknologi di kawasan Timur Tengah
  dianggap dan di promosikan sebagai ancaman terhadap  rezim

Israel? Apakah
  usaha ilmiah dan penelitian bukan merupakan hak-hak  dasar masyarakat?
 
  Kemungkinan Anda memiliki pengetahuan tentang sejarah. Selain abad
  pertengahan pada bagian mana dari sejarah dan di  mana, kemajuan ilmu dan
  teknologi dianggap sebagai sebuah kejahatan? Apakah dengan mengandaikan
  kemungkinan dipakainya ilmu dan teknologi untuk maksud-maksud militer
  dapat menjadi alasan untuk menentang ilmu dan  teknologi? Bila kesimpulan
  yang demikian adalah benar, maka seluruh ilmu harus ditentang bahkan
  fisika, kimia, matematika, kedokteran, arsitektur  dan lain-lain.
 
  Dalam masalah Irak telah terjadi kebohongan.  Hasilnya apa? Saya tidak ragu
  bahwa semua manusia meyakini bahwa kebohongan adalah  hal yang tidak
  terpuji. Anda sendiri tidak akan senang bila orang  lain berdusta terhadap
  Anda.
 
  Tuan Presiden…
 
  Apakah masyarakat di Amerika Latin memiliki hak  untuk mempertanyakan
  mengapa selalu ada usaha untuk tidak menyetujui  pemerintahan terpilih dari
  rakyat dan pada saat yang sama adanya pembelaan bagi  mereka yang ingin
  melakukan kudeta terhadap pemerintahan terpilih.  Mengapa ancaman selalu
  diarahkan kepada mereka?
  Masyarakat Afrika adalah masyarakat yang punya etos
  kerja, kreatif dan   memiliki potensi. Mereka dapat berperan penting
  dalam menjamin kebutuhan dan kemajuan materi dan maknawi masyarakat dunia.
  Kemiskinan dan kepapaan di sebagian besar Afrika menjadi kendala terbesar
  untuk dapat memainkan peran penting tersebut.
 
  Apakah mereka berhak untuk mempertanyakan, mengapa  kekayaan luar biasa dan
  barang tambang mereka dijarah padahal mereka lebih  membutuhkan dari orang
  lain? Apakah aksi-aksi semacam ini sesuai dengan  ajaran Nabi Isa dan
  hak-hak asasi manusia?
 
  Masyarakat

Iran yang berani dan beriman juga  memiliki banyak pertanyaan.
  Salah satunya; Kudeta 28 Murdad terhadap  pemerintahan waktu itu pada lima
  puluh dua tahun yang lalu, berhadap-hadapan dengan  revolusi Islam dan
  menjadikan kedutaan Amerika menjadi markas besar,  dengan memiliki ribuan
  dokumen, yang membela mereka yang tidak setuju  dengan Republik Islam,
  melindungi Saddam Husein dalam perang terhadap Iran,  penembakan pesawat
  penumpang Iran, menyandera harta masyarakat Iran, ancaman-ancaman yang
  semakin meningkat dengan menunjukkan ketidaksetujuan serta kemarahan atas
  kemajuan ilmu dan teknologi serta nuklir masyarakat Iran, padahal semua
  orang Iran gembira dengan kemajuan negara mereka dan  mengadakan acara
  untuk keberhasilan mereka. Masih banyak lagi  pertanyaan yang semacam ini
  dan untuk menjelaskannya di

surat ini tidak saya  cantumkan.
 
  Tuan Presiden…
 
  Peristiwa 11 September benar-benar merupakan  peristiwa yang mengerikan.
  Pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di  bagian mana saja dari dunia
  ini selalu menyakitkan dan sangat disayangkan.  Pemerintah kami pada waktu
  itu mengumumkan rasa kebencian terhadap pelaku  kejadian dan sekaligus
  mengucapkan belasungkawa kepada mereka yang  ditinggalkan.
 
  Semua negara memiliki kewajiban untuk melindungi  jiwa, harta dan
  kehormatan rakyatnya. Seperti yang dikatakan bahwa  negara Anda memiliki
  sistem keamanan, penjagaan dan informasi yang luas  dan canggih. Bahkan
  para penentang yang berada di luar negeri pun  diburu. Operasi 11 September
  bukan operasi yang mudah. Apakah konsep dan  pelaksanaan operasi tersebut
  dapat bekerja tanpa kerja sama dengan sistem  informasi dan keamanan dan
  atau pengaruh yang luas di

sana dapat terjadi?  Tentunya ini hanya sebuah
  kemungkinan dari orang-orang yang berpikiran logis.
  Mengapa sisi-sisi lain   dari kejadian ini tetap misterius? Mengapa tidak ada
  penjelasan resmi bahwa siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian
  ini? Dan mengapa para pelaku dan mereka yang lalai tidak diumumkan dan
  dihukum?
 
  Tuan Presiden…
 
  Salah satu kewajiban peerintah adalah mewujudkan  keamanan dan ketenangan
  kepada rakyatnya. Masyarakat negara Anda dan  negara-negara tetangga poros
  krisis dunia selama bertahun-tahun tidak lagi  merasakan keamanan dan
  ketenangan.
 
  Setelah peristiwa 11 September bukannya meredam jiwa  dan menenangkan
  mereka yang terkena musibah. Masyarakat Amerika  adalah yang paling
  menderita akibat kejadian tersebut sementara  sebagian dari media Barat
  malah membesar-besarkan kondisi tidak aman dan  senantiasa mengabarkan
  adanya kemungkinan serangan teroris dan mereka  sengaja menjaga agar
  masyarakat senantiasa dalam kondisi takut dan  khawatir. Apakah ini namanya
  melayani rakyat Amerika? Apakah kerugian yang  berasal dari ketakutan dan
  kekhawatiran dapat dihitung?
 
  Coba gambarkan! Rakyat Amerika merasa bakal ada  serangan. Di jalanan,
  tempat kerja dan di rumah mereka merasa tidak aman.  Siapa yang dapat
  menerima kondisi seperti ini? Mengapa media bukannya  memberitakan hal-hal
  yang dapat menenangkan dan memberikan keamanan malah  mengabarkan
  ketidakamanan?
  Sebagian berkeyakinan bahwa iklan besar-besaran ini  sebagai fondasi dan
  alasan untuk menyerang

Afghanistan. Bila sudah  begini kiranya baik bila
  saya berikan sedikit petunjuk terkait dengan media.
 
  Dalam prinsip dasar media, penyampaian informasi  yang benar dan menjaga
  amanat dalam menyebarkan berita adalah dasar yang  manusiawi dan diterima.
  Saya merasa perlu untuk mengucapkan dan mengumumkan  rasa penyesalan yang
  dalam atas ketiadaan rasa tanggung jawab sebagian  media Barat dengan
  kewajiban ini. Alasan asli agresi ke Irak adalah  adanya senjata pemusnah
  massal. Tema ini diulang-ulang sedemikian rupa  sehingga masyarakat percaya
  dan menjadi dasar untuk menyerang Irak.
 
  Apakah kebenaran tidak akan hilang pada situasi yang  dibuat-buat dan
  berisi kebohongan?
 
  Apakah hilangnya sebuah kebenaran sesuai dengan
  tolok ukur yang telah dijelaskan sebelumnya?
 
  Apakah kebenaran juga akan hilang di sisi Tuhan?
 
  Tuan Presiden…
 
  Di semua negara masyarakatlah yang menanggung anggaran belanja negaranya
  sehingga pemerintah dapat melayani mereka.
  Pertanyaannya di sini, dengan anggaran tahunan ratusan miliar dolar pengiriman
  pasukan ke Irak apa yang didapat oleh masyarakat?
 
  Anda sendiri mengetahui bahwa di sebagian negara  bagian Amerika masyarakat
  hidup dalam kemiskinan. Ribuan orang tidak memiliki rumah. Pengangguran
  adalah masalah besar dan masalah ini kurang lebih  terjadi juga di
  negara-negara lain. Apakah dalam kondisi yang seperti ini pengiriman
  sejumlah besar pasukan dan itu pun dengan anggaran  luar biasa dari
  masyarakat dapat dibenarkan dan sesuai dengan dasar-dasar yang telah
  disebutkan sebelumnya?
 
  Tuan Presiden…
 
  Apa yang sudah disebutkan adalah sebagian dari penderitaan masyarakat
  dunia; kawasan kami dan masyarakat Anda. Namun maksud asli saya yang
  setidak-tidaknya akan Anda benarkan sebagai berikut:
 
 

Para penguasa memiliki masa tertentu dan tidak  selamanya berkuasa. Namun
  nama mereka akan diingat dan tertulis dalam sejarah.
  Dan di masa depan, dekat atau jauh, senantiasa dinilai. Masyarakat akan
  berkata, dalam periode kita ini apa yang telah terjadi.
 
  Apakah untuk masyarakat kita menyiapkan keamanan dan  kesejahteraan atau
  ketidakamanan dan pengangguran.
 
  Apakah kita hendak mengukuhkan keadilan ataukah  hanya kelompok khusus yang
  ingin kita lindungi. Itu pun dengan harga kemiskinan  dan kepapaan sebagian
  besar masyarakat dunia. Apakah kita akan memilih  untuk mengutamakan
  sekelompok kaum minoritas dengan segala kekayaan dan  pangkat dan kerelaan
  mereka ketimbang kerelaan Tuhan?
 
  Apakah kita telah membela hak-hak masyarakat dan  kaum miskin ataukah kita
  tidak memandang sedikit pun kepada mereka.
 
  Apakah kita membela hak-hak manusia di seluruh dunia
  ataukah dengan   memaksakan perang dan ikut campur secara ilegal
  terhadap urusan sebuah negara dan dengan mengadakan sel-sel yang menakutkan
  memenjarakan sebagian orang di

sana?
 
  Apakah kita telah berbuat untuk terwujudnyaperdamaian dunia ataukah kita
  menyebarkan ancaman dan kekerasan di seluruh dunia?
 
  Apakah kita telah berbicara dengan jujur kepada rakyat kita dan masyarakat
  dunia ataukah kita malah menunjukkan kebenaran yang telah diputarbalikkan.
 
 
  Apakah kita termasuk pembela masyarakat ataukah pembela para penjajah dan
  penzalim?
 
Apakah dalam pemerintahan kita, logika, akal, moral, perdamaian, mengamalkan perjanjian,   menyebarkan keadilan, melayani masyarakat, kesejahteraan dan kemajuan dan menjaga kehormatan  manusia lebih  dipentingkan ataukah kekuatan persenjataan, ancaman,
tidak adanya keamanan, tidak adanya perhatian kepada masyarakat,
menahan lajunya kemajuan masyarakat dunia dan merusak hak-hak
manusia?
 
Pada akhirnya mereka akan berkata, apakah kita masih
setia dengan sumpah yang kita ucapkan dalam rangka melayani masyarakat
dan perjanjian asli kita dan ajaran-ajaran para Nabi ataukah tidak?
 
  Tuan Presiden…
 
  Sampai kapan dunia akan menanggung beban berat ini?
  Dengan proses yang semacam ini dunia akan menuju kemana?
  · Sampai kapan masyarakat dunia harus menanggung beban keputusan-keputusan
  tidak benar dari para penguasa?
  · Sampai kapan cakrawala ketakutan harus dihadapkan kepada masyarakat
  dunia akibat ditimbunnya senjata pemusnah massal?
  · Sampai kapan darah anak-anak, para wanita dan laki-laki harus mengalir
  di atas batu-batu jalanan dan rumah-rumah mereka harus dihancurkan?
 
  Apakah Anda rela dengan kondisi dunia sekarang ini?
 
  Apakah Anda berpikir bahwa kebijakan yang telah ada ini dapat berlangsung
  terus?
 
  Bila saja ratusan miliar dolar yang dipakai untuk  membiayai keamanan,
  pertahanan, pengiriman pasukan dialokasikan sebagai  modal dan bantuan bagi
  negara-negara miskin, pengembangan kebersihan,  berperang melawan berbagai
  macam penyakit, penghijauan dan pengentasan  kemiskinan dan keterbatasan,
  menggalang perdamaian, menghilangkan perselisihan  antar negara-negara,
  menghilangkan peperangan kabilah dan ras dan  lain-lain. Dapat dibayangkan
  bagaimana dunia sekarang? Dan apakah pemerintahan  dan rakyat Anda tidak
  merasa bangga dengan ini?
 
  Apakah posisi politik dan ekonomi pemerintahan dan  rakyat Anda tidak akan
  semakin kokoh?
 
  Dengan mengucapkan rasa penyesalan penuh, saya harus  mengucapkan apakah
  ada kenaikan tingkat kebencian masyarakat dunia  terhadap pemerintah   Amerika?
 
  Tuan Presiden, saya tidak bermaksud untuk melukai  perasaan seorang pun.
 
  Apakah bila hari ini Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya?qub,  Ismail, Yusuf dan atau
  Nabi Isa A.S. hadir di dunia ini dan dengan melihat  perilaku yang semacam
  ini apa kata mereka? Apakah dunia yang dijanjikan,  dunia yang diliputi
  oleh keadilan dengan kehadiran Nabi Isa A.S. akan  memberikan kita peran?
  Apakah mereka akan menerima kita?
 
  Pertanyaan kunci saya di sini; Apakah jalan yang  lebih baik dalam
  pergaulan dengan masyarakat dunia tidak ada lagi?
 
  Hari ini di dunia ada ratusan juta orang Kristen,  ratusan juta orang Islam
  dan jutaan lagi orang pengikut Nabi Musa A.S. Semua
  agama ilahi dalam satu  kalimat bersatu dan itu adalah kalimat tauhid, yaitu
  keyakinan akan Tuhan  Yang Esa dan selain Dia tidak ada tuhan di dunia
  ini.
 
  Al-Quran al-Karim menegaskan akan kalimat yang satu  ini dan ia memanggil
  semua pengikut agama ilahi dengan kalimat ini. Allah  berfirman:
 
  Katakanlah : Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu
  kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,
  bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan
  sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain
  sebagai tuhan selain dari pada Allah.? (Ali Imran: 64)
 
  Tuan Presiden…
 
  Berdasarkan firman ilahi kita semua diajak untuk menyembah Allah Yang Esa
  dan mengikuti utusan-utusan ilahi.
 
  ? Penyembahan kepada Tuhan Yang Esa yang Maha kuasa
  dan berkuasa atas segala sesuatu?, Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal
  yang tersembunyi dan tampak, dahulu dan akan datang dan Ia mengetahui apa
  yang terlintas di benak hamba-Nya dan Ia mencatat amalan mereka?,
  ?Tuhan Sang pemilik langit dan bumi dan semua alam di bawah kekuasaan-Nya?,
  ?Pengaturan seluruh alam di tangan-Nya dan Ia memberikan janji untuk
  mengampuni dosa-dosa hamba-Nya?, Ia penolong mereka yang terzalimi dan
  musuh mereka yang menzalimi?, Dia Maha Pengasih dan Penyayang?, ?Ia
  penolong kaum mukminin dan Ia menuntun mereka dari kegelapan kepada
  keterang-benderangan?, ?Ia mengawasi perbuatan hamba-hamba-Nya?, ? Ia
  menyerukan hamba-Nya untuk beriman dan berbuat baik dan menginginkan agar
  mereka berbuat berdasarkan kebenaran dan untuk tetap istiqamah dalam
  kebenaran?, ? Allah menyerukan agar hamba-hamba-Nya untuk menaati utusan-Nya dan Ia
  sebagai saksi dan pengawas perbuatan hamba-hamba-Nya?, ?Puncak
  keburukan terkait dengan orang-orang yang menginginkan kehidupan yang
  terbatas di dunia ini dan tidak mengikuti perintah-Nya dan menzalimi
  hamba-hamba Allah?, ?Puncak kebaikan dan surga yang kekal hanya akan diberikan
  kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa di hadapan keagungan ilahi dan tidak
  mengikuti hawa nafsunya?.
 
  Kami yakin bahwa kembali kepada ajaran-ajaran para  Nabi adalah
  satu-satunya jalur kebahagiaan dan kesuksesan. Saya  mendengar bahwa Anda
  adalah seorang penganut Kristen dan percaya akan janji ilahi akan adanya
  pemerintahan orang-orang baik di muka bumi.
 
  Kami juga percaya bahwa Nabi Isa A.S. adalah salah  satu Nabi besar ilahi.
  Dalam al-Quran Nabi Isa mendapat penghormatan yang  luar biasa dan ini
  adalah ucapan Nabi Isa A.S. yang dinukil oleh  al-Quran:
 
  ?Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh
  kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.?
  (Maryam: 36)
 
  Penghambaan dan ketaatan kepada Allah adalah seruan semua para Nabi. Tuhan
  seluruh masyarakat di Eropa, Afrika, Amerika, dan negara-negara kepulauan,
  seluruh dunia hanya satu Tuhan dan itu adalah Tuhan yang memberikan
  hidayah dan menginginkan kemuliaan bagi semua hamba-hamba-Nya dan
  memberikan kehormatan kepada umat manusia.
 
Dan dalam firman Allah: ?Allah Yang Maha Mengetahui dan Tinggi mengutus
para Nabi disertai dengan tanda-tanda yang jelas dan mukjizat untuk memberi petunjuk kepada   manusia. Pengutusan itu agar mereka menunjukkan tanda-tanda kebesaran ilahi kepada   manusia. Dengan  begitu manusia dapat disucikan dari dosa. Allah mengirimkan kitab dan
mizan agar manusia dapat menegakkan keadilan dan dapat meninggalkan orang-orang yang berbuat zalim?.
 
  Seluruh ayat-ayat dengan bentuk yang mirip ada di  kitab suci.
  Para Nabi dan utusan ilahi memberikan janji:
 
  Suatu hari nanti semua manusia akan dibangkitkan di hadapan Allah untuk
  diperhitungkan amal perbuatannya. Mereka yang berbuat baik akan diantarkan
  ke surga. Dan mereka yang berbuat buruk akan menanggung perbuatannya
  dengan menerima siksa ilahi. Saya berpikir bahwa kita berdua sama meyakini
  akan hari itu.
 
  Tentunya perhitungan para penguasa tidak akan ringan. Hal itu karena harus
  menjawab kepada masyarakat dan semua orang atas setiap perbuatan kita yang
  ada hubungannya dan memiliki dampak dalam kehidupan  mereka.
 
  Para Nabi menginginkan perdamaian, ketenangan berdasarkan prinsip-prinsip
  penyembahan kepada Allah, menjaga harkat dan martabat manusia bagi seluruh
  manusia.
 
  Bila kita semua meyakini tauhid dan penyembahan kepada Tuhan, keadilan,
  menjaga harkat dan martabat serta kemuliaan manusia dan hari akhir, apakah
  tidak bisa menyelesaikan problema dunia sekarang yang diakibatkan oleh
  kejauhan dari ketaatan kepada Allah dan ajaran-ajaran para Nabi, dengan
  prinsip itu dengan lebih baik dan indah?
 
  Apakah keyakinan akan prinsip-prinsip ini tidak memperluas dan menjamin
  perdamaian, persaudaraan dan keadilan?
 
  Apakah prinsip-prinsip itu bukan merupakan ajaran tertulis atau tidak
  tertulis mayoritas masyarakat dunia?
 
  Apakah Anda tidak ingin mengiyakan seruan ini? Kembali secara hakiki
  kepada ajaran-ajaran para Nabi, kepada tauhid dan keadilan, kepada
  penjagaan terhadap harkat dan martabat manusia dan kepada ketaatan
  terhadap Tuhan dan utusan-utusan-Nya
 
  Tuan Presiden…
 
  Data-data sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan  yang berada dalam jalur
  kezaliman tidak pernah bertahan lama. Tuhan tidak  menyerahkan nasib
  manusia di tangan penguasa zalim. Tuhan tidak  membiarkan dunia dan manusia
  begitu saja. Bukankah sudah banyak kejadian yang  bertolak belakang dengan
  rencana-rencana para penguasa. Kejadian-kejadian  sejarah menunjukkan bahwa
  ada kekuatan misterius di atas segalanya di balik  semua ini yang mengatur
  semua hal.
 
  Tuan Presiden…
 
  Apakah tanda-tanda perubahan di dunia kini dapat  diingkari? Apakah keadaan
  dunia sekarang dengan sepuluh tahun yang lalu dapat  dibandingkan.
  Perubahan terjadi begitu cepat dan dengan dimensi yang sangat luas.
 
  Masyarakat dunia tidak rela dengan kondisi dunia  kini. Mereka tidak
  percaya dengan janji-janji sebagian penguasa paling  berpengaruh pun di
  dunia.
 
  Sebagian besar masyarakat dunia merasa tidak aman. Mereka tidak setuju
  dengan berkembangnya kondisi ini begitu juga dengan  perang. Mereka juga
  tidak setuju dengan kebijakan ganda.
 
  Masyarakat dunia protes akan adanya jurang pemisah yang dalam antara
  mereka yang kaya dan miskin dan antara negara yang sejahtera dan miskin.
  Masyarakat semakin membenci kebejatan moral yang semakin meningkat.
 
  Mayoritas masyarakat di negara-negara merasa tidak  puas karena basis
  budaya mereka terancam dan institusi keluarga yang  berantakan serta kasih
  sayang dan cinta kasih yang semakin luntur.
 
  Masyarakat dunia mulai pesimis memandang PBB. Hal  itu dikarenakan hak-hak
  mereka tidak dipertahankan.
 
  Liberalisme dan Demokrasi Barat tidak mampu  mendekatkan manusia kepada
  idealisme mereka. Liberalisme dan Demokrasi adalah  dua kata pecundang.
 

Para pemikir dan cendekiawan dunia dengan jelas  mendengar suara runtuhnya
  pemikiran dan sistem Liberal-Demokrasi.
 
  Hari ini perhatian masyarakat dunia semakin  meningkat kepada sebuah fokus.
  Dan pusat itu adalah Tuhan Yang Esa. Dan tentunya  masyarakat dengan tauhid
  dan berpegangan dengan ajaran-ajaran para Nabi akan  dimenangkan atas
  masalah yang dihadapi. Pertanyaan penting dan serius  saya di sini:
 
  Apakah Anda tidak ingin menyertai mereka?
 
  Tuan Presiden…
 
  Mau tidak mau, dunia sedang mengarah pada  penyembahan Allah dan keadilan
  dan kehendak Allah akan mengalahkan segala-galanya.
 
  Keselamatan kepada mereka yang mengikuti
  petunjuk.
 
  Mahmud Ahmadi Nejad
  President  Republik Islam Iran
 
  Tehran 17-02-1384
  07-05-2006
  
  Sumber:
 
http://www.president.ir/eng/ahmadinejad/cronicnews/1385/02/19/index-e.htm#b3

Siapapun pasti merasakan tersiksanya bila flu telah menyerang.
Bagaimana cara perlindungan terbaik terhadap flu? Hal penting yang
harus dilakukan adalah mencuci tangan sebelum makan dan minum vitamin
C sebagai ekstra perlindungan.

Di selain vitamin yang berfungsi sebagai penambah daya tahan tubuh,
ada beberapa jenis makanan yang biasa kita makan yang memiliki khasiat
mencegah dan mengobati penyakit ini, yaitu:

Sup ayam: Sup ayam telah lama dikenal sebagai penicilin alami  dan
jenis makanan yang menduduki urutan atas makanan yang memiliki daya
pengobatan. sup ayam hangat membantu membersihkan jalannya udara yang
tersumbat dan memberi lebih banyak energi. Anda dapat menambahkan
sejumlah sayuran seperti bawang merah dan bawang putih sebagai
tambahan daya sembuh.

Makanan hangat dan pedas: Beberapa orang percaya bawnag putih, sayuran
semacam lobak, cabe atau saus pedas dapat membantu meringankan
kemacetan akibat flu.

Bawang putih: Bawang putih atau dikenal dengan nama alliin adalah
bahan makanan yang berfungsi sebagai decongestan atau obat penghilang
kemampetan hidung akibat flu selain diyakini sebagai antioksidan yang
dapat menghancurkan radical bebas.

Minum banyak cairan: Ketika anda tersirang flu, tetap perbanyak minum.
Sebagai pengganti kopi atau minuman soda, cobalah minum banyak air
putih atau jus buah-buahan murni. Beberapa minuman segar seperti teh
herbal pepermint atau minum air jeruk hangat bisa membantu mempercepat
penyembuhan flu.

Buah jeruk: Buah jeruk adalah buah yang mengandung banyak vitamin C.
Penting mendapat vitamin C saat anda tengah terserang flu terlebih
bila anda seorang perokok.

Makan makanan sumber vitamin C lain: Selain jeruk, ada banyak makanan
yang mengandung vitamin C seperti kentang, strawberi, lada hijau dan
semangka dapat menjadi altenatif makanan pencegah flu.

Jahe: Banyak orang biasa menggunakan jahe segar sebagai minuman untuk
membantu meringankan batuk dan demam yang sering menemani flu. Cobalah
buat minuman dari jahe yang dicampur dengan teh untuk menghasilkan
minuman yang berkhasiat.

« Newer Posts - Older Posts »